Banyuwangi — Persewangi Banyuwangi mengawali kiprahnya di kompetisi Liga 4 Jawa Timur musim 2025–2026 dengan hasil positif. Laskar Blambangan sukses meraih kemenangan tipis 1-0 atas PSSB Situbondo pada laga perdana yang digelar Kamis (11/12/2025).
Kemenangan tersebut menjadi modal awal Persewangi untuk menatap target besar di kompetisi musim ini. Meski demikian, manajemen menegaskan hasil pertandingan bukan satu-satunya tujuan utama klub yang telah berusia 55 tahun itu.
“Kemenangan dan kekalahan dalam sepakbola adalah hal yang biasa. Kita syukuri langkah awal yang bagus ini,” kata Purwo Handoko saat ditemui media di Bali, Sabtu (13/12/2025).
Purwo menilai usia Persewangi yang telah menginjak lebih dari setengah abad menuntut klub untuk terus berbenah dan bergerak maju. Persewangi, kata dia, dipersiapkan bukan hanya sebagai klub kompetisi musiman, melainkan memiliki peta jalan jangka panjang yang terintegrasi dengan pengembangan sport tourism di Banyuwangi.
“Pertandingan kemarin itu banyak ditonton oleh turis asing dari Bali. Ini tentu menarik sekali. Kiprah Persewangi mulai dikenal di kalangan internasional dan membuka peluang menjadikan Banyuwangi sebagai pijakan awal menuju sport tourism skala global,” ujarnya.
Menurut Purwo, ketertarikan terhadap Persewangi bahkan datang dari sejumlah klub luar negeri. Beberapa klub Eropa disebut telah menghubunginya untuk menjadikan Banyuwangi sebagai alternatif lokasi training camp, khususnya saat musim dingin di Eropa.
“Saya tidak menyangka tiba-tiba dihubungi oleh FC Lokomotiv Moscow dan beberapa klub dari Turki serta Liga Inggris. Mereka tertarik mengadakan training camp di Banyuwangi setelah mendengar kiprah Persewangi,” jelasnya.
Ketertarikan tersebut, lanjut Purwo, mendorong Persewangi untuk menjalin kerja sama lebih erat dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang selama ini memberikan dukungan terhadap klub kebanggaan masyarakat Blambangan tersebut.
Sebagai tindak lanjut, Persewangi berencana mengelola sejumlah aset milik Pemkab Banyuwangi yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, seperti Agrowisata Taman Suruh dan Stadion Diponegoro.
“Agrowisata Taman Suruh akan kami jadikan markas Persewangi. Di sana akan dibangun beberapa lapangan latihan sepakbola. Untuk mengakomodasi kebutuhan klub luar negeri yang training camp, kami juga akan membangun villa dan kondotel bertaraf internasional bagi pemain dan pengunjung,” papar Purwo.
Tak hanya sepakbola, kawasan tersebut juga direncanakan menjadi pusat sport tourism terpadu. Sejumlah cabang olahraga lain, seperti panjat tebing dan panahan, akan dikembangkan dengan pembangunan sarana latihan khusus.
“Panjat tebing dan panahan merupakan cabang olahraga penyumbang medali, bahkan emas, di Olimpiade. Ini peluang besar,” ucapnya.
Purwo optimistis, dengan dukungan Pemkab Banyuwangi dan para pemangku kepentingan, Banyuwangi dapat tumbuh sebagai destinasi sport tourism berskala global.
“Pengelolaan Persewangi bukan hanya soal sepakbola, tapi bagaimana membangun ekosistem yang mendorong terciptanya sport tourism di Banyuwangi,” pungkasnya.



