Korannusantara.id – JAKARTA, Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai memberikan dampak nyata terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan laporan Philips Future Health Index (FHI) 2026, sebanyak 69 persen tenaga kesehatan di Indonesia menyatakan alat berbasis AI telah meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien. Minggu, 31 Agustus 2026
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 50 persen.
Laporan edisi ke-11 yang dirilis Royal Philips juga menunjukkan, sebanyak 88 persen tenaga kesehatan Indonesia mengaku penggunaan AI meningkatkan efisiensi alur kerja. Sementara itu, 67 persen melaporkan penurunan tingkat stres setelah memanfaatkan teknologi tersebut.
Namun, peningkatan penggunaan AI belum sepenuhnya diikuti kesiapan ekosistem layanan kesehatan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan AI masih sulit diperoleh, terbatas, atau tidak merata. Di sisi lain, 94 persen menilai keterlibatan manusia tetap sangat penting dalam penggunaan AI di bidang kesehatan.
Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam perjalanan adopsi AI di sektor kesehatan Indonesia. Jika Future Health Index 2025 menyoroti pentingnya membangun kepercayaan dan menciptakan kondisi yang mendukung adopsi AI, laporan 2026 lebih menekankan dampak nyata AI dalam praktik layanan kesehatan.
Tenaga kesehatan melaporkan proses kerja dan diagnosis yang lebih cepat, kapasitas pelayanan yang meningkat, akses informasi yang lebih baik, serta berkurangnya tekanan di tempat kerja.
Meski demikian, laju adopsi AI dinilai berkembang lebih cepat dibandingkan kesiapan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, serta tata kelola yang diperlukan agar penerapannya aman dan konsisten dalam skala lebih luas.
Hal tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara Philips bertema “AI in Practice: Scaling AI for Better Care in Indonesia” di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pemimpin dari Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk membahas perkembangan serta tantangan penerapan AI secara bertanggung jawab di Indonesia.
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, mengatakan pembahasan mengenai AI dalam layanan kesehatan kini memasuki tahap baru.
“Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien,” ujarnya.
Menurut Astri, manfaat awal tersebut perlu diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan. AI, kata dia, harus terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, disertai peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti pelayanan.
AI Tingkatkan Efisiensi dan Kapasitas Pelayanan
Laporan FHI 2026 menunjukkan manfaat AI paling terlihat pada aspek yang berkaitan langsung dengan kapasitas dan efisiensi pelayanan.
Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan AI meningkatkan efisiensi alur kerja, lebih tinggi dibandingkan 71 persen secara global.
Kemudian, 87 persen melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis, sementara 82 persen mengatakan AI mempercepat proses pengambilan keputusan terkait diagnosis.
Sebanyak 75 persen tenaga kesehatan juga melaporkan kemudahan mengakses data pasien yang terintegrasi lintas tim medis. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 57 persen.
Peningkatan efisiensi tersebut turut berdampak pada kapasitas klinis. Sebanyak 69 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan alat berbasis AI membuat mereka mampu melayani lebih banyak pasien. Di antara tenaga kesehatan yang merasakan peningkatan kapasitas, median peningkatannya mencapai empat pasien tambahan per minggu.
AI juga dinilai membantu pengelolaan waktu. Sebanyak 59 persen tenaga kesehatan melaporkan penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun atau setara lebih dari dua minggu kerja penuh.
Selain produktivitas, dampak terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan juga terlihat. Sebanyak 67 persen mengatakan AI meningkatkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, sedangkan proporsi yang sama melaporkan penurunan stres. Sekitar separuh responden juga mengaku lebih jarang lembur atau membawa pekerjaan ke rumah.
Dalam konteks Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan tingkat akses layanan kesehatan yang berbeda-beda, potensi AI juga dinilai cukup besar.
Sebanyak 81 persen tenaga kesehatan percaya AI dapat membantu mempersempit kesenjangan kualitas layanan kesehatan antarwilayah dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di daerah yang kurang terlayani.
Dari sisi institusi, 43 persen pemimpin fasilitas layanan kesehatan Indonesia melaporkan adanya penghematan anggaran setelah menerapkan AI. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 34 persen.
Sementara itu, 69 persen mengatakan manfaat dari investasi AI yang dilakukan telah memenuhi atau bahkan melampaui biaya investasinya.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, mengatakan AI memberikan manfaat terbesar ketika terintegrasi dengan alur kerja klinis dan mampu mengurangi berbagai hambatan dalam pekerjaan tenaga kesehatan.
Menurutnya, penerapan AI bukan sekadar tentang menambah teknologi, tetapi mempercepat transformasi menuju konsep Hospital of the Future yang tetap berorientasi pada hasil klinis dan outcome pasien.
“Teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien,” ujarnya.
Adopsi AI Lebih Cepat daripada Kesiapan
Di tengah meningkatnya penggunaan AI, laporan FHI 2026 juga menemukan sejumlah tantangan yang perlu segera ditangani.
Sebanyak 63 persen tenaga kesehatan mengatakan penggunaan alat berbasis AI yang disediakan institusi mereka meningkat dalam satu tahun terakhir. Sementara 57 persen menggunakan AI generatif untuk membahas ide-ide yang berkaitan dengan pekerjaan.
Kepercayaan terhadap pimpinan institusi juga relatif tinggi. Sebanyak 77 persen tenaga kesehatan percaya pimpinan mereka telah mengambil langkah yang tepat dalam menerapkan AI. Angka tersebut jauh di atas rata-rata global sebesar 59 persen.
Namun, dukungan teknologi di tempat kerja belum selalu memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. Sebanyak 58 persen mengaku beralih menggunakan alat AI pribadi ketika pilihan yang tersedia di institusi mereka tidak memenuhi kebutuhan.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko apabila alat yang digunakan belum tervalidasi secara klinis, belum terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas.
Persoalan lain adalah pelatihan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan untuk menggunakan alat berbasis AI masih sulit diperoleh, terbatas, atau tidak merata.
Pelatihan dinilai tidak cukup hanya mengajarkan cara mengoperasikan teknologi, tetapi juga perlu mencakup perlindungan data pasien, tanggung jawab hukum, serta kemampuan memeriksa akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI.
Selain pelatihan, mekanisme pemantauan juga menjadi perhatian. Sebanyak 62 persen tenaga kesehatan mengatakan belum tersedianya proses yang jelas untuk memantau penggunaan alat berbasis AI.
Seiring meningkatnya penggunaan AI dalam layanan kesehatan, institusi membutuhkan mekanisme validasi, audit, pelacakan, dan peninjauan secara berkala.
Dalam konteks percepatan digitalisasi rekam medis elektronik melalui ekosistem SATUSEHAT, tantangan berikutnya bukan sekadar menambah jumlah teknologi AI. Integrasi AI dengan alur kerja klinis, data kesehatan yang tepercaya, dan tata kelola yang jelas menjadi faktor penting.
AI Menjadi “Rekan Kerja”, Manusia Tetap Memegang Kendali
Perubahan peran AI juga mulai memengaruhi cara tenaga kesehatan memandang teknologi tersebut.
Sebanyak 94 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan pekerjaan mereka saat ini sudah atau akan segera lebih berfokus pada pekerjaan klinis yang memiliki nilai lebih tinggi.
Sebanyak 83 persen percaya AI akan membantu mereka bekerja secara optimal sesuai kemampuan profesional yang dimiliki.
Meski AI mulai berperan dalam tugas administratif, pemrosesan informasi, dan dukungan analisis klinis, tenaga kesehatan tetap memberikan batasan terhadap otonomi teknologi.
Sebanyak 94 persen mengatakan keterlibatan manusia tetap sangat penting seiring perkembangan AI, sementara 91 persen percaya seluruh hasil AI harus tetap berada di bawah pengawasan manusia.
Untuk sebagian besar aplikasi klinis, kurang dari satu dari 10 tenaga kesehatan merasa nyaman apabila AI mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri.
Artinya, AI lebih dipandang sebagai mitra pendukung pengambilan keputusan, sementara tanggung jawab dan akuntabilitas tetap berada pada tenaga kesehatan.
Hubungan manusia dengan pasien juga tetap dianggap tidak tergantikan. Sebanyak 90 persen tenaga kesehatan mengatakan AI tidak akan pernah menggantikan hubungan yang dibangun antara tenaga kesehatan dan pasien.
Sebanyak 87 persen bahkan percaya keterampilan interpersonal akan semakin penting seiring berkembangnya AI.
Pasien Juga Mulai Menggunakan AI
Perubahan penggunaan AI juga terjadi di sisi pasien. Sebanyak 57 persen pasien Indonesia menggunakan AI generatif untuk mencari informasi terkait kesehatan secara online.
Namun, penggunaan tersebut juga membawa tantangan baru. Sebanyak 80 persen tenaga kesehatan mengaku pernah meluruskan misinformasi yang dihasilkan AI dan dibawa pasien ke ruang konsultasi.
Karena itu, transparansi menjadi semakin penting. Sebanyak 91 persen pasien Indonesia mengatakan mereka harus diberitahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka.
Temuan ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang jelas, panduan klinis yang tepercaya, serta peningkatan literasi AI baik di kalangan tenaga kesehatan maupun pasien.
Astri menegaskan Indonesia memiliki peluang untuk membuktikan bahwa inovasi dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan.
“AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan,” katanya.
Menurutnya, pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran bersama dalam membangun infrastruktur yang terhubung, meningkatkan kapabilitas tenaga kerja, serta memastikan adanya perlindungan yang memadai.
Dengan demikian, penerapan AI di Indonesia tidak berhenti pada tahap penggunaan teknologi dalam praktik, tetapi dapat berkembang menjadi adopsi dalam skala luas untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi lebih banyak masyarakat.



