korannusantara.id, Asahan, Potret memprihatinkan dunia pendidikan dasar terjadi di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026 di SD Negeri 010119 Aek Loba, Kecamatan Aek Kuasan, nyaris tanpa peminat. Sekolah dasar negeri yang berlokasi di kawasan tersebut hanya menerima satu murid baru untuk kelas 1 tahun ini.
Fenomena langkanya pendaftar terungkap melalui sebuah foto yang beredar luas di media sosial dan grup-grup percakapan masyarakat. Dalam gambar itu, tampak seorang guru tengah mengajar hanya seorang murid di dalam ruang kelas yang lengang. Meski hanya memiliki satu peserta didik baru, proses belajar-mengajar tetap berjalan sebagaimana mestinya, dengan semangat pengabdian dari para pendidik di sekolah tersebut.
Kepala sekolah sementara (Plh) SDN 010119 Aek Loba, Evy Sinaga, membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi pada Selasa (22/7/2025). “Benar, hanya satu siswa yang mendaftar di PPDB tahun ini,” ujar Evy dengan nada prihatin namun tetap tegar.
Evy menjelaskan, secara keseluruhan saat ini SDN 010119 Aek Loba masih menjalankan enam rombongan belajar (rombel) dari kelas 1 hingga kelas 6. Total jumlah siswa aktif hanya mencapai 30 orang, atau rata-rata sekitar 5 siswa per kelas. Meskipun kondisi tersebut jauh dari ideal, kegiatan akademik tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
“Dalam satu kelas, muridnya paling banyak hanya lima orang. Tapi guru-guru kami tetap mengajar seperti biasa,” katanya.
Sekolah ini sendiri memiliki lima orang guru dan satu staf tata usaha (TU). Dari lima guru tersebut, dua merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS), satu berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan dua lainnya adalah guru honorer. Jumlah tenaga pendidik yang lebih banyak dibandingkan jumlah murid baru jelas menjadi catatan tersendiri.
Terkait penyebab rendahnya minat masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah tersebut, Evy mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun ia tidak menampik kemungkinan adanya sejumlah faktor eksternal yang memengaruhi, seperti perpindahan penduduk, minimnya promosi sekolah, atau preferensi orang tua yang lebih memilih sekolah swasta atau sekolah negeri lain yang dianggap lebih baik.
“Kami belum tahu pasti kenapa minat masyarakat menurun. Mungkin perlu ada kajian lebih lanjut atau survei di lapangan,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata tantangan besar yang masih dihadapi dunia pendidikan dasar, khususnya di wilayah-wilayah pinggiran atau pedesaan. Dalam konteks pemerataan pendidikan, hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah dan juga instansi terkait.
Minimnya jumlah siswa tidak hanya berdampak pada suasana belajar, tetapi juga berisiko mengancam kelangsungan sekolah itu sendiri di masa depan, jika tidak segera ditangani dengan strategi yang tepat.
(red)



