Korannusantara.id – Asahan, 22 Juli 2025, Aksi damai mahasiswa yang digelar untuk mendesak pengungkapan kasus dugaan korupsi dana COVID-19 di Sumatera Utara justru berujung kekerasan. Sejumlah peserta aksi diserang oleh kelompok tak dikenal yang diduga kuat merupakan oknum preman bayaran.
Terkait insiden ini, Muhammad Seto Lubis, Demisioner Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kisaran-Asahan Periode 2018–2019, angkat bicara.
“Ini bukan sekadar serangan terhadap individu, tapi penghinaan terhadap prinsip demokrasi yang dijamin konstitusi. Kader HMI atas nama Aulia menjadi korban, dipukul secara brutal saat menyampaikan aspirasi. Ini pelecehan terhadap ruang demokrasi!” tegas Seto.
Ia pun mendesak Pengurus Besar HMI untuk segera menginstruksikan aksi solidaritas nasional atas nama Aulia.
“Saya minta Kabid PTKP PB HMI, seluruh Badko, dan Cabang se-Indonesia untuk turun ke jalan! Ini bukan soal satu orang, ini soal harga diri kader HMI yang diinjak-injak!” lanjutnya.
Lebih jauh, Seto meminta pertanggungjawaban dari Kapolda Sumatera Utara, termasuk evaluasi tegas terhadap aparat yang berjaga saat insiden terjadi. Kerna ini negara hukum.
“Kapolda Sumut harus segera menangkap pelaku pemukulan Mengapa preman bisa menghambat Massa Aksi yang akan menyampaikan suara atas kegelisahan kasus korupsi, bila ini dibiarkan akan merajalela dan kebal hukum !” tegasnya.
Seto menegaskan, penyampaian aspirasi adalah hak yang dilindungi undang-undang. Ketika ruang demokrasi dibungkam dengan kekerasan, maka negara telah gagal melindungi warganya.tutupnya



