Korannusantara.id – Depok, Di tengah konstelasi seni rupa kontemporer global yang kerap terjebak dalam dikotomi antara rasionalitas modernisme Barat dan tradisi lokal yang sering kali dieksotisasi, Sri Hardana menghadirkan sebuah intervensi estetis yang berani sekaligus relevan dengan konteks zaman. 3 Agustus 2026
Melalui reinterpretasi terhadap Primbon sebuah sistem pengetahuan lokal yang memuat kosmologi, pembacaan tanda, serta panduan menjalani kehidupan Sri Hardana berupaya mendekonstruksi stigma mistis yang selama ini melekat pada tradisi tersebut. Primbon tidak lagi diposisikan semata sebagai praktik supranatural, melainkan ditransformasikan menjadi ruang refleksi kultural yang kritis tanpa terjebak dalam romantisisme budaya.
Mengusung format pameran instalasi partisipatoris yang emansipatif, karya ini mengajak publik menyelami dimensi spiritual dan imajinatif yang kaya akan simbol-simbol estetika Jawa, khususnya fragmen elemen candi yang disusun membentuk konfigurasi angka-angka neptu. Sri Hardana mentransformasikan kertas daur ulang melalui teknik digital print menjadi rangkaian puzzle dengan pendekatan visual ornamentik surealistik. Atmosfer ruang diperkuat melalui permainan warna-warna yang menghadirkan nuansa mistis, pencahayaan redup, dan tata ruang yang mengundang pengalaman estetis yang hening, reflektif, serta kontemplatif.
Dalam praktik artistiknya, Sri Hardana memadukan karakter visual Pop Surrealisme yang kreatif dan inovatif dengan kedalaman spiritual yang dapat dimaknai sebagai semacam “Tarot Jawa”. Primbon tidak lagi dibaca sebagai teks yang dogmatis dan kaku, melainkan menjadi arena permainan tanda yang terbuka bagi beragam penafsiran.
Partisipasi pengunjung menjadi bagian penting dalam konsep penciptaan karya. Mereka diajak melempar anak panah ke bidang yang dipenuhi angka-angka neptu dan simbol-simbol visual untuk menemukan jawaban yang unik, sarat humor, absurditas, sekaligus menjadi ruang kontemplasi atas berbagai kegelisahan masyarakat urban. Mekanisme interaktif ini secara cerdas membongkar absolutisme ramalan tradisional.
Audiens tidak lagi ditempatkan sebagai objek pasif yang tunduk pada takdir, melainkan sebagai subjek aktif yang membangun makna, berdialog dengan alam bawah sadarnya, serta merefleksikan bahkan menertawakan pergulatan eksistensial mereka sendiri. Dalam konteks ini, Primbon hadir sebagai cermin psikoanalitis, tempat sejarah lokal, praktik seni, dan alam bawah sadar manusia saling beririsan.
Pameran ini juga dapat dibaca sebagai bentuk resistensi pasca-digital (post-digital resistance) di tengah meningkatnya kecemasan masyarakat metropolitan. Bagi warga kota yang lelah oleh ritme kerja yang terus mengikis ruang jeda, serta merasa terkepung oleh algoritma digital yang impersonal, gestur sederhana melempar anak panah menjelma menjadi medium pelepasan ketegangan batin (stress relief).
Sementara itu, humor yang hadir dalam pengalaman bermain memicu tawa kolektif yang mampu meruntuhkan sekat-sekat isolasi sosial.
Di titik inilah seni kembali menunjukkan perannya yang paling mendasar: menjadi ruang kontemplasi, introspeksi, sekaligus dialog antara manusia, budaya, dan alam bawah sadar melalui simbol-simbol serta bahasa visual yang dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari.



