Korannusantara.id – Jakarta, Wakil Sekretaris Jenderal DPP AMPI sekaligus Wakil Sekretaris Eksekutif Balitbang DPP Partai Golkar, Leriadi, S.Sos, menilai pelaksanaan Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran penting bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Menurutnya, keberhasilan sebuah negara dalam sepak bola modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas individu pemain, tetapi juga oleh kekuatan sistem pembinaan, budaya, karakter, dan profesionalisme yang dibangun secara berkelanjutan.
Leriadi mengatakan, sejumlah hasil pertandingan di Piala Dunia 2026 menunjukkan semakin tipisnya kesenjangan kualitas antarnegara. Negara-negara yang selama ini tidak masuk kategori kekuatan tradisional mampu memberikan perlawanan bahkan menciptakan kejutan berkat sistem pembinaan yang baik dan budaya sepak bola yang kuat.
“Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak hanya bergantung pada bakat individu. Yang menentukan adalah bagaimana sebuah negara membangun sistem pembinaan, karakter pemain, budaya kompetitif, dan profesionalisme secara konsisten dalam jangka panjang,” ujar Leriadi, Selasa (24/6/2026).
Menurutnya, Indonesia perlu menjadikan fenomena tersebut sebagai bahan refleksi untuk mempercepat pembangunan sepak bola nasional. Ia menegaskan bahwa perhatian tidak boleh hanya terfokus pada tim nasional senior, melainkan harus dimulai dari pembinaan usia dini yang menjadi fondasi utama lahirnya pemain berkualitas.
Ia menjelaskan, negara-negara yang berhasil membangun prestasi sepak bola dunia umumnya memiliki kompetisi usia muda yang berjalan teratur, akademi sepak bola yang berkualitas, pelatih yang kompeten, serta sistem pencarian bakat yang menjangkau berbagai daerah.
“Tim nasional hanyalah hasil akhir dari sebuah proses panjang. Karena itu, Indonesia harus memperkuat kompetisi mulai dari usia dini, remaja, hingga level profesional secara berkesinambungan. Pemain muda membutuhkan banyak pertandingan kompetitif untuk berkembang dan memahami tuntutan sepak bola modern,” katanya.
Selain pembinaan teknis, Leriadi menekankan pentingnya peran akademi sepak bola sebagai pusat pembentukan karakter. Menurutnya, akademi tidak hanya bertugas melatih kemampuan bermain bola, tetapi juga membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kemampuan bekerja sama, serta penghormatan kepada lawan, pelatih, dan wasit.
“Pada level tertinggi, perbedaan sering kali ditentukan oleh karakter dan mentalitas. Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pembinaan sepak bola Indonesia,” ujarnya.
Leriadi juga menyoroti peran strategis pelatih dalam proses pembinaan pemain muda. Ia menilai pelatih tidak hanya berfungsi mengajarkan taktik dan teknik bermain, tetapi juga berperan sebagai pendidik, pembimbing, motivator, dan teladan bagi para pemain.
Menurutnya, pemain muda perlu ditanamkan pemahaman bahwa menjadi pesepak bola profesional berarti menjaga disiplin, menghormati kontrak, menjaga kondisi fisik, menghargai waktu, serta menunjukkan perilaku yang baik baik di dalam maupun di luar lapangan.
Lebih lanjut, ia menilai sepak bola Indonesia perlu membangun budaya kompetitif yang sehat. Kompetitif, kata dia, bukan berarti saling menjatuhkan, melainkan memiliki semangat untuk terus berkembang, berani bersaing, dan tidak mudah menyerah.
“Kita bisa belajar dari negara-negara seperti Jepang, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat yang berkembang pesat karena memiliki budaya kompetitif yang kuat. Mereka tidak hanya ingin menjadi peserta, tetapi ingin menjadi pesaing yang diperhitungkan,” jelasnya.
Selain itu, Leriadi menegaskan bahwa profesionalisme harus menjadi budaya dalam seluruh ekosistem sepak bola nasional, mulai dari pemain, klub, hingga federasi. Profesionalisme tercermin dari cara berlatih, menjaga kesehatan, menghormati aturan, menerima kritik, serta menyikapi kemenangan dan kekalahan secara dewasa.
“Piala Dunia 2026 mengajarkan bahwa kejayaan sepak bola tidak dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses panjang melalui pembinaan usia dini, akademi yang berkualitas, kompetisi yang berkelanjutan, pelatih yang mendidik, serta budaya disiplin dan profesionalisme yang mengakar,” katanya.
Leriadi berharap seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional dapat menjadikan momentum tersebut sebagai dorongan untuk memperkuat ekosistem sepak bola Indonesia secara menyeluruh.
“Jika Indonesia ingin menjadi kekuatan sepak bola yang disegani di Asia bahkan dunia, maka pembangunan harus dimulai dari fondasi. Tujuan pembinaan sepak bola bukan hanya melahirkan pemain hebat, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter, kompetitif, profesional, dan mampu membawa nama Indonesia dengan kehormatan di panggung dunia,” pungkasnya.



