Korannusantara.id, Jakarta – Analis kebijakan publik dan politik nasional, sekaligus Ketua Indonesia Youth Epicenterum (IYE) atau Pusat Perkumpulan Pemuda Indonesia mengecam keras narasi sesat, framing negatif, dan upaya penggirian opini liar dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Bapak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Nasky menilai, narasi dan kritikan yang disampaikan eks Wamenlu, Dino Patti tidak objektif, konstruktif, dan tak proporsional dalam melihat persoalan secara komprehensif. Sangat tedendius, lebih kuat nuansa politisnya.
“Perlu dipahami dalam konteks yang utuh secara objektif, konstruktif, proporsional, dan komprehensif, bukan sebagai upaya menghidupkan sentimen negatif. Kami memandang pentingnya pelurusan konteks agar masyarakat tidak terjebak pada narasi sesat, penggiringan opini liar, dan framing negatif yang menyudutkan kinerja dan kepemimpinan Bapak Presiden RI, Prabowo Subianto,” ujar Nasky dalam keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Selasa malam (2/6/2026).
Alumni INDEF School of Political Economy Jakarta itu menilai, saat ini Pak Presiden Prabowo tengah fokus dan konsisten menjalankan berbagai langkah strategis dalam mewujudkan visi besar program mulia nya melalui asta cita untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) di tengah situasi serta dinamika geopolitik global yang tidak menentu.
“Oleh karena itu, segala bentuk disinformasi yang menyerang kinerja secara personal maupun institusional sangat merugikan kepentingan publik. Narasi sesat dan framing negatif tersebut dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap kinerja dan dedikasi kepemimpinan pemerintahan Prabowo Subianto,” katanya.
Menjaga Persatuan Nasional sebagai Tanggung Jawab Bersama
Founder Nasky Milenial Center (NMC), Nasky juga mengimbau seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh politik, dan pemuda untuk menjaga kerukunan serta persatuan nasional di tengah situasi dan tantangan geopolitik global yang tidak menentu.
Ia menyebut taktik semacam itu bukan hal baru. Dalam praktik global, dikenal istilah decapitation strategy, yaitu serangan terhadap tokoh-tokoh kunci yang menjadi fondasi kekuatan politik atau kebijakan.
“Jika kita menggunakan pendekatan public choice theory, serangan seperti ini bukan peristiwa netral. Ada aktor-aktor yang sedang berupaya menggeser peta kekuasaan dengan menyerang figur kunci dalam sistem,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia menambahkan, Dalam menjaga stabilitas keamanan nasional serta merawat persatuan bangsa yang kondusif, Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan narasi dan diksi rasionalitas yang menyejukkan dan mempersatukan.
“Menurutnya, kedewasaan dalam berbangsa tercermin dari kemampuan mengubah setiap dinamika menjadi energi positif yang memperkokoh persatuan nasional, sehingga setiap tutur kata di ruang-ruang publik menjadi kontribusi nyata bagi rakyat,” tegas dia.
Ajak Publik Lebih Bijak dan Rasional
Oleh sebab itu, Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil (civil society), Kita harus lebih cermat melihat fenomena seperti ini. Literasi publik harus ditingkatkan agar masyarakat tidak mudah termakan opini tanpa dasar empiris, serta fakta dan data yang konkret.
“Ia mengimbau masyarakat luas untuk mengedepankan sikap husnuzan (prasangka baik) dan membudayakan tabayun (klarifikasi) terhadap setiap informasi yang beredar. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, kita jangan mudah terprovokasi oleh narasi dan diksi yang terfragmentasi. Mari kita lihat setiap pernyataan dari kacamata persatuan yang lebih luas,” ucapnya.
Nasky yang juga penulis buku “Politik Kaum Muda, Anak Muda dan Perubahan” menekankan, agar masyarakat tidak mudah terpancing isu yang memecah belah merupakan langkah objektif di tengah ketidakpastian geopolitik. Menurutnya, stabilitas keamanan nasional menjadi prasyarat penting agar Indonesia mampu bertahan dari dampak konflik internasional.
Ia mengajak seluruh pihak menjaga soliditas dan persatuan nasional di era pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto, sekaligus memastikan tokoh-tokoh penting mendapat dukungan publik.
“Ayo semua bersatu melawan hoaks dan narasi pecah belah, agar bangsa ini maju, kondusif, dan berkeadaban. Mari kita tutup celah adu domba dan kembali fokus pada agenda kebangsaan yang lebih strategis dalam mengawal, mendukung kinerja dan dedikasi pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto dalam mewujudkan Asta Cita kepada seluruh rakyat, bangsa, dan negara,” tutupnya.



