• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Nasional

Prof Didik Rachbini “RI Bisa Untung di Tengah Krisis Minyak Dunia”

Redaksi by Redaksi
11 April 2026
in Nasional, Opini
0
Prof Didik Rachbini “RI Bisa Untung di Tengah Krisis Minyak Dunia”

Ket : Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D. Ekonom senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina

0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Jakarta, Di tengah gejolak global akibat ketegangan militer di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, Indonesia dinilai memiliki keunggulan struktural yang unik. Ekonom senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., menyatakan bahwa Indonesia memiliki sektor “Natural Hedge” (lindung nilai alami) yang mampu menjadi penyangga (shock absorber) sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi di masa krisis.
​“Diskusi di media sosial seolah-olah krisis ini adalah kiamat. Padahal, guncangan harga minyak sudah berkali-kali kita lalui sejak era Soeharto hingga Jokowi. Perspektif kita harus out of the box. Di balik krisis, ada peluang besar melalui penguatan sektor berbasis sumber daya alam (SDA),” ujar Prof. Didik dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

​Prof. Didik menjelaskan bahwa krisis energi memang menekan fiskal melalui subsidi dan melemahkan nilai tukar Rupiah.

 

Namun, di saat yang sama, sejumlah sektor justru menunjukkan ketahanan (resilience) dan menjadi pemenang (winner). Sektor-sektor tersebut antara lain:
​Pertambangan: Batubara, minyak bumi, gas, dan panas bumi.
​Bijih Logam: Nikel, timah, dan bauksit.
​Perkebunan: CPO (kelapa sawit) dan karet.
​Sektor-sektor ini memiliki karakteristik unik: input berbasis domestik (Rupiah), namun output berorientasi ekspor (Valas). Akibatnya, depresiasi Rupiah justru meningkatkan daya saing ekspor dan memberikan keuntungan tambahan (windfall profit).

​Guna mengoptimalkan momentum ini, Prof. Didik menekankan pentingnya Strategi Fiskal Adaptif. Pemerintah didesak untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari windfall profit yang dinikmati para pengusaha di sektor-sektor tersebut.

​“Pengusaha harus berbagi. Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945, kekayaan alam harus digunakan untuk kemakmuran rakyat. Pengusaha tidak akan rugi jika pemerintah mengambil tambahan keuntungan akibat krisis ini secara transparan untuk mengatasi beban subsidi dan memperkuat fiskal,” tegasnya.

 

​Lebih jauh, Prof. Didik melihat krisis ini sebagai pintu masuk untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.

 

Menurutnya, Indonesia tidak bisa melampaui angka 5 persen jika hanya mengandalkan sektor domestik dan belanja pemerintah.

1. ​Akselerasi Hilirisasi: Mempercepat industrialisasi berbasis SDA (smelter nikel, bauksit, hingga pengolahan rumput laut dan perikanan).
2. ​Transisi Energi: Memanfaatkan momentum harga minyak yang mahal untuk mendanai transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pengembangan biofuel sebagai substitusi energi fosil.
3. ​Konsolidasi Fiskal: Menggunakan pendapatan dari sektor SDA untuk efisiensi dan pembiayaan energi hijau.
​“Krisis harga minyak tidak boleh hanya dianggap beban. Ini adalah momentum untuk penghematan, efisiensi, dan konsolidasi fiskal. Jika dikelola dengan cerdas, krisis ini justru menjadi katalisator bagi Indonesia untuk beralih menjadi negara industri berbasis SDA yang tangguh,” tutup Prof. Didik.

92
Tags: Indonesia UntungIsrael IranKeuntungan IndonesiaKonflik Timur TengahKrisis Minyak DuniaProf Didik J.Rachbini
Previous Post

Tanggul Sungai Dalu-dalu Ambruk, Fauzi Tantang Bupati Batubara Soal Tanggung Jawab Proyek Rp11,6 Miliar

Next Post

FEBI UINSU Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kependidikan Lewat Pelatihan Pengelolaan Data

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
FEBI UINSU Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kependidikan Lewat Pelatihan Pengelolaan Data

FEBI UINSU Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kependidikan Lewat Pelatihan Pengelolaan Data

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.