Jakarta — Gubernur DKI Jakarta dijadwalkan menemui jajaran Majelis Kaum Betawi (MKB) pada Senin, 15 Desember 2025. Pertemuan tersebut akan digelar di Museum M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, dengan Majelis Kaum Betawi sebagai tuan rumah.
Agenda pertemuan akan dipimpin langsung Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Dr. Ing. H. Fauzi Bowo. Dalam kesempatan itu, MKB akan menyerahkan secara resmi hasil Kongres Istimewa Kaum Betawi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penyerahan tersebut menjadi bentuk pertanggungjawaban adat sekaligus kontribusi pemikiran strategis bagi arah pembangunan Jakarta.
Museum M.H. Thamrin dipilih sebagai lokasi pertemuan karena memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Betawi. Museum ini merupakan simbol perjuangan tokoh Betawi sebelum masa kemerdekaan dan dinilai relevan dengan semangat membangun Jakarta ke depan yang berakar pada sejarah serta kearifan lokal.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Kongres Istimewa Kaum Betawi yang sebelumnya digelar sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta. Melalui kongres tersebut, Majelis Kaum Betawi telah disahkan, didaftarkan, serta memperoleh legalitas hukum melalui AHU sebagai lembaga adat Betawi yang sah dan diakui negara.
Selain penyerahan hasil kongres, pertemuan ini juga menjadi ruang dialog strategis antara tokoh adat Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pembahasan akan difokuskan pada peran dan kontribusi Majelis Kaum Betawi dalam menyikapi dinamika Jakarta sebagai Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ).
Acara ini dijadwalkan dihadiri para tokoh sepuh Betawi, ulama, pimpinan organisasi kemasyarakatan Betawi, serta perwakilan Majelis Kaum Betawi dari berbagai wilayah. Kehadiran Pasukan Laskar Adat Betawi dan para Jawara Betawi turut mewarnai kegiatan sebagai simbol kehormatan, persatuan, dan kekuatan adat Betawi.
Sebagai tuan rumah, Majelis Kaum Betawi menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pelestarian adat dan budaya Betawi, sekaligus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung pembangunan ibu kota yang berpijak pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. (red)



