Korannusantara.id, Jakarta – Analis kebijakan publik dan politik nasional, Nasky Putra Tandjung, mengapresiasi dan mendukung penuh kebijakan Presiden RI, Prabowo Subianto untuk menghapus utang Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para petani yang terdampak bencana banjir-longsor di wilayah Aceh dan Sumatra.
“Menurutnya, Keputusan Presiden tersebut dinilai mencerminkan keberpihakan negara hadir bersama rakyat di tengah musibah, sekaligus menjadi titik awal pemulihan ekonomi masyarakat di kawasan terdampak,” kata Nasky dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, pada Senin (8/12/2025).
Nasky menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam melindungi, dan memfasilitasi kebutuhan mereka, karena petani sebagai pilar utama negara dalam menjaga kedaulatan pangan nasional. “Para petani adalah produsen pangan. Tanpa pangan, tidak ada negara. Tanpa pangan, tidak ada NKRI,” tegasnya.
“Oleh karena itu, Ia menilai langkah Presiden tersebut sebagai epicentrum kebijakan dalam rangka pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana yang berlandaskan keadilan sosial, dan simbol moral kemanusian,” sambungnya.
Diketahui, Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbaru menunjukkan, lebih dari 900 korban jiwa dan ratusan masih hilang, sementara puluhan ribu warga mengungsi akibat banjir dan longsor yang terjadi sejak awal Desember. Ribuan hektare lahan pertanian rusak, ribuan rumah turut hancur serta akses logistik terputus.
Selanjutnya, Alumnus indef school of political economy Jakarta itu menilai, Kebijakan Presiden Prabowo tersebut sebagai pesan kuat bahwa negara hadir untuk membantu, menolong warga negara yang sedang mengalami musibah bencana.
“Menurut Nasky, Menghapus utang KUR petani bukan semata keputusan administratif, melainkan rasa empati, solidaritas nasional, dan komitmen moral negara terhadap rakyat yang terdampak bencana,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Founder Nasky Milenial Center menyebut, langkah ini menjadi solusi konkret bagi permasalahan klasik petani terutama dalam hal biaya dan efisiensi rantai pasok hasil pertanian.
Namun demikian, Ia menekankan penghapusan utang KUR ini sangat membantu petani. Namun, disatu sisi ada juga yang lebih penting yaitu bagaimana para petani bisa kembali menanam. “Menurutnya, Sawah harus diperbaiki, irigasi harus dibangun kembali, dan petani harus didampingi agar tidak kehilangan harapan untuk bangkit,” ucapnya.
Oleh sebab itu, Sebagai bagian dari masyarakat sipil (civil society), Kita menyambut baik dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI, Prabowo Subianto atas keberpihakan yang nyata terhadap rakyat kecil.
Nasky menyebut langkah Presiden mencerminkan kepemimpinan sejati yang berpihak pada petani dan rakyat kecil.
“Kami melihat ini sebagai langkah nyata Presiden Prabowo yang mencintai rakyatnya, terutama petani dan rakyat kecil. Beliau menunjukkan bahwa keberpihakan itu bukan sekadar wacana, tetapi tindakan nyata,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah akan menghapus utang KUR bagi petani di Aceh yang terdampak banjir dan longsor. Kebijakan ini ditempuh karena situasi yang dihadapi petani akibat bencana dianggap sebagai “force majeure” atau keadaan memaksa sehingga petani tidak bisa dipersalahkan bila gagal membayar.
Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Presiden saat meninjau pembangunan jembatan darurat Jembatan Bailey Teupin Mane di Kabupaten Bireuen, Minggu (7/12/2025).
Menurut Presiden, penghapusan utang KUR diikuti dengan komitmen untuk merehabilitasi kembali sawah, irigasi, dan infrastruktur pertanian yang rusak akibat bencana. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, pemerintah akan mendistribusikan pasokan dari daerah lain sampai produksi lokal pulih.
Kebijakan ini diharapkan meringankan beban petani Aceh yang tengah mengalami kerugian akibat bencana, sekaligus mempercepat pemulihan sektor pertanian dan ekonomi lokal di wilayah terdampak.
(red)



