• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Opini

Belajar Tangguh dari Anak-anak Panti

Oleh: Niken Dwi Nurainy

Redaksi by Redaksi
25 November 2025
in Opini
0
Belajar Tangguh dari Anak-anak Panti

Ket :Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Panti Sosial Perlindungan Anak Dharma Samarinda

0
SHARES
71
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Opini, Mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Panti Sosial Perlindungan Anak Dharma Samarinda memberikan pengalaman yang jauh melampaui apa pun yang pernah saya dapatkan di bangku kuliah. Saya belajar bahwa ketangguhan tidak dibentuk oleh teori, tetapi oleh perjumpaan langsung dengan manusia dengan luka, dengan perjuangan, dan dengan harapan mereka. Di panti ini, saya menyadari bahwa menjadi calon konselor berarti bersedia hadir sepenuhnya, bukan hanya datang dengan solusi.

Setiap anak yang saya temui memiliki caranya sendiri dalam bertahan. Ada yang diam seribu bahasa, ada yang tertawa tapi menyimpan beban berat, ada pula yang baru mau terbuka setelah beberapa hari saling berinteraksi. Di sinilah saya belajar ulang makna empati. Bahwa memahami seseorang tidak pernah cukup dari sekadar melihat permukaan. PKL mengajarkan saya bahwa konseling bukan hanya metode, melainkan kehadiran-kehadiran yang tulus dan tidak menghakimi.

Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah menyadari betapa perhatian kecil dapat berarti besar bagi mereka. Menemani bercerita, menjadi pendengar yang aman, atau sekadar duduk di samping mereka saat sedang sensitif ternyata mampu memberi rasa nyaman yang sangat berharga.

Di hadapan anak-anak yang pernah mengalami penelantaran, saya melihat bahwa dukungan bukan selalu berupa kata-kata, tetapi rasa aman yang lahir dari keberadaan seseorang.

Selain itu, PKL menjadi ruang latihan profesionalisme yang sesungguhnya. Saya belajar menjaga batasan, memahami etika, dan mengendalikan emosi saat situasi menjadi sulit. Saya berlatih untuk tetap hadir tanpa larut, menenangkan tanpa mendominasi, dan memberi ruang saat diperlukan. Nilai-nilai ini tidak pernah saya temukan secara utuh di buku teks ia hanya dapat dipahami lewat pengalaman nyata.

Kegiatan rutin seperti muhadharah, muhasabah, sholat berjamaah, belajar, dan aktivitas harian lainnya membuka mata saya bahwa pembinaan karakter tidak selalu harus berbentuk sesi konseling formal. Terkadang, proses penyembuhan tumbuh melalui ritme harian yang sederhana, lingkungan yang menenteramkan, dan hubungan yang memberi rasa diterima. Di momen-momen itulah saya melihat bagaimana perubahan kecil perlahan membentuk ketangguhan anak-anak.

Berinteraksi dengan mereka juga membuat saya bercermin. Saya belajar memahami bagaimana saya merespons tekanan, bagaimana saya mengelola emosi, dan bagaimana saya menilai kemampuan diri setelah melihat kenyataan yang lebih luas. Ada saat-saat ketika saya merasa tidak mampu, tetapi justru dari titik itulah saya belajar ketangguhan versi saya sendiri. Bahwa menjadi profesional bukan perkara menjadi sempurna, melainkan berani terus belajar.

Pada akhirnya, pengalaman PKL ini mengubah cara saya memandang profesi konselor. Setiap anak memiliki cerita unik dan kebutuhan yang tidak sama. Saya ditantang untuk tidak membandingkan, tidak berasumsi, dan terus mengasah empati saya. Di panti ini, saya belajar bahwa mendampingi manusia adalah perjalanan panjang, yang dimulai dari kesediaan untuk hadir sepenuh hati.

PKL bukan sekadar kewajiban akademik. Ia menjadi perjalanan yang membentuk saya sebagai mahasiswa, sebagai calon konselor, dan sebagai manusia. Dari anak-anak panti, saya belajar tentang keberanian menghadapi hidup. Dari diri saya sendiri, saya belajar tentang ketangguhan yang perlahan tumbuh. Dan dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa bekerja membantu orang lain adalah jalan yang ingin saya tempuh dengan kedewasaan, kebijaksanaan, dan hati yang lebih manusiawi.

290
Tags: Anak-anakNiken Dwi NurainyPanti AsuhanPKLUINSI
Previous Post

Komaruddin Ritonga: Pemerintah Harus Melahirkan UU Upah Minimum Guru

Next Post

Syahruddin Dg Sitaba Alami Pembengkakan Kaki Saat Ditahan, Kuasa Hukum Protes Prosedur Penanganan Perkara di Polsek Tamalate

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Syahruddin Dg Sitaba Alami Pembengkakan Kaki Saat Ditahan, Kuasa Hukum Protes Prosedur Penanganan Perkara di Polsek Tamalate

Syahruddin Dg Sitaba Alami Pembengkakan Kaki Saat Ditahan, Kuasa Hukum Protes Prosedur Penanganan Perkara di Polsek Tamalate

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.