Korannusantara.id – Jakarta, 30 Agustus 2025, Kutipan Tan Malaka bahwa “kemewahan terakhir pemuda adalah idealisme” kembali menemukan relevansinya di jalanan ibu kota. Idealisme itulah yang mendorong ribuan pemuda, mahasiswa, dan buruh turun ke jalan pada 28 Agustus 2025. Namun, idealisme yang seharusnya menjadi energi perubahan justru berujung tragis dengan hilangnya nyawa seorang pemuda berusia 21 tahun.
Pemuda tersebut adalah Affan Kurniawan, pengemudi ojek online (ojol) dari Jakarta Barat yang meninggal dunia setelah terlindas mobil taktis Brimob jenis Barakuda di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Insiden ini terekam dalam video amatir yang beredar luas di media sosial dan memicu gelombang duka serta kemarahan publik.
Luka Kolektif Para Ibu
Banyak pihak menyampaikan belasungkawa, termasuk para tokoh masyarakat, komunitas ojol, hingga figur publik. Salah satunya, Novita Sari Yahya, aktivis perempuan dan pemerhati kebijakan publik, menegaskan bahwa tragedi ini adalah luka kolektif bagi seluruh ibu di Indonesia.
“Sebagai ibu, saya bisa merasakan betapa perihnya kehilangan seorang anak di usia muda, apalagi ketika ia menjadi tulang punggung keluarga. Kecemasan yang sama dirasakan banyak ibu di negeri ini, setiap kali anak-anak mereka keluar rumah untuk bekerja atau belajar, apakah mereka akan pulang dengan selamat atau justru tinggal nama,” ungkap Novita Sari Yahya.
Pernyataan tersebut mewakili keresahan kaum ibu yang khawatir dengan jatuhnya korban jiwa dari kalangan anak muda.
Gelombang Aksi dan Tuntutan Sosial
Demo pada 28 Agustus 2025 digelar serentak di 38 provinsi dengan berbagai tuntutan:
Penghapusan sistem outsourcing, Penolakan upah murah, Reformasi pajak perburuhan, Penghentian PHK massal.
Di Jakarta, aksi yang awalnya berlangsung damai berujung ricuh ketika aparat menembakkan gas air mata dan massa membalas dengan lemparan batu serta petasan. Kericuhan meluas hingga ke Pejompongan, tempat tragedi Affan Kurniawan terjadi.
Tuntutan Keadilan dan Transparansi
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menyampaikan permintaan maaf resmi dan menegaskan bahwa tujuh anggota Brimob yang berada di dalam mobil rantis tersebut sudah diamankan. Investigasi tengah dilakukan oleh Divisi Propam Polri dengan janji transparansi. Namun, publik menuntut agar kasus ini benar-benar diusut tuntas tanpa ada yang ditutupi.
#RIPDemokrasi: Sinyal Bahaya bagi Indonesia
Tagar #RIPDemokrasi menjadi trending di media sosial pasca-tragedi. Banyak yang menilai insiden ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan tanda bahaya kegagalan demokrasi di Indonesia.
Pemuda, bahkan pelajar SMP dan SMA, kini turun ke jalan karena merasa ruang aspirasi semakin tertutup. Jika demonstrasi selalu berakhir dengan gas air mata, bentrokan, bahkan korban jiwa, maka demokrasi kehilangan makna sejatinya.
Menurut pemikiran Bung Hatta dan Sutan Syahrir, demokrasi adalah alat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Namun kondisi saat ini justru memperlihatkan jurang kesenjangan: rakyat kecil semakin terhimpit, sementara elite menikmati privilese dengan gaji dan tunjangan fantastis.
Momentum Perubahan
Kematian Affan Kurniawan adalah tragedi besar, tapi juga bisa menjadi momentum perubahan. Pemuda turun ke jalan bukan untuk membuat kerusuhan, melainkan untuk menyuarakan luka rakyat yang semakin dalam. Seperti diingatkan oleh Novita Sari Yahya, bangsa ini harus berbenah agar tidak terus-menerus mengorbankan darah muda demi tegaknya keadilan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Affan Kurniawan husnul khotimah, dan tragedi ini menjadi pengingat bahwa demokrasi sejati hanya akan tegak jika negara hadir melindungi rakyatnya, bukan sebaliknya.
( Red )



