Korannusantara.id – Asal mula kota modern di zamannya ini bernama ofir, kini berubah nama menjadi Nagari Ophir dan merupakan Kecamatan Luhak Nanduo, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Ia merupakan jejak sejarah di Tanah Ranah Minang bersyariat yang menyala hingga Kini.
Di bumi tempat matahari merunduk menghangatkan dua gunung kembar Pasaman dan Talamau, tersembunyi Ofir, kota yang tak lekang oleh waktu.
Ofir dan Kedatangan VOC
Di tengah riuhnya arus sejarah dan kesibukan masa kini, nama Ofir mungkin tak setenar Batavia atau Malaka. Namun di tanah Pasaman Barat, Sumatera Barat, Ofir berdiri sebagai saksi bisu bagaimana kolonialisme membentuk denyut nadi sebuah kota yang kemudian menjelma menjadi pusat modernitas.
Kota ini menjadi tempat bersilangnya jalur perdagangan, perkebunan emas hijau, dan denyut industri —jauh sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menginjakkan kaki di bumi Andalas.
Di abad ke-17, ketika VOC sedang giat memperluas wilayah dagangnya, pantai barat Sumatera menjadi titik strategis. Pelabuhan Air Bangis dan Sasak membuka gerbang laut menuju Eropa dan Asia Timur.
Ofir, yang terletak tidak jauh dari pesisir, tumbuh sebagai kota administratif dan logistik —pusat pengendali sumber daya alam dari hulu ke hilir.
Mereka datang dari utara dengan layar segitiga, Menukar pala dan lada dengan jalan kereta api, kota industri lengkap dengan fasilitas penerangan (listrik), rumah sakit, fasilitas olahraga berupa kolam renang (zwembad atau slembat) dan lapangan olahraga dan meninggalkan peta-peta tua, tempat Ofir ditulis dengan tinta yang tak mudah pudar.
Perkebunan: Emas Hijau dari Pegunungan
Perkebunan kopi, karet, kelapa sawit, lada dan pala menjadi denyut kehidupan masyarakat. Dikelola oleh Belanda dan kemudian diwarisi oleh perusahaan-perusahaan lokal, perkebunan ini menyebar dari lembah sekitar Gunung Talamau dan Pasaman hingga ke pesisir.
Jalur produksi sangat tertata, dari kebun menuju pabrik pengolahan di Ofir, dan selanjutnya dibawa ke pelabuhan.
Bersamaan dengan itu, pekerja dari berbagai suku datang, membentuk Ofir sebagai kota multikultur. Ada Minangkabau, Mandailing, Jawa, Tionghoa, hingga etnis Nias—semua menyatu dalam semangat kerja dan perdagangan.
Pabrik dan Jalur Rel Kereta
Sebagai pusat industri kolonial, Ofir memiliki beberapa pabrik pengolahan yang masih berdiri dalam puing kenangan.
Pabrik pengolahan karet dan minyak kelapa sawit menjadi nadi ekonomi. Guna mempercepat distribusi, Belanda membangun jalur rel kereta api yang menghubungkan Ofir dengan pelabuhan Sasak dan Air Bangis.
Meskipun kini sebagian besar jalur telah hilang ditelan hutan dan waktu, bekas-bekas rel itu masih dapat ditemukan, seperti urat nadi yang membatu.
Kereta itu tak lagi berderit, Tapi suara peluitnya masih membekas di telinga waktu.
Pelabuhan Sasak dan Air Bangis
Di ufuk barat, dua pelabuhan besar menjadi nyawa dari ekspor Ofir. Pelabuhan Sasak menjadi titik strategis Belanda untuk ekspor hasil perkebunan ke Belanda. Sementara Pelabuhan Air Bangis, lebih tua dan lebih ramai, menjadi pusat interaksi dagang antara India, Arab, dan Eropa.
Dari pelabuhan ini, kopi dan rempah dikirim ke negeri-negeri jauh, namun aroma tanah Pasaman tetap tertinggal dalam setiap kemasan ekspor yang meninggalkan dermaga.
Perahu-perahu tua itu membawa sejarah, mengantar harum tanah kami ke negeri yang bahkan kami tak kenal namanya.
Rumah Sakit dan Modernitas
Sadar akan pentingnya kesehatan para pekerja, Belanda mendirikan rumah sakit kolonial di Ofir. Meski kini berubah fungsi atau ditinggalkan, rumah sakit tersebut dulunya memiliki layanan medis yang cukup lengkap untuk zamannya.
Ia menjadi simbol bahwa Ofir bukan sekadar kota industri, melainkan juga titik awal pembangunan sosial.
Ofir Kini: Warisan yang Tak Hilang
Meski nama Ofir tidak selalu disebut dalam peta modern, jejaknya masih terpatri dalam bentuk desa-desa, bekas rel, dan bangunan kolonial.
Banyak masyarakat yang tak tahu, bahwa kota kecil tempat mereka tinggal adalah bagian dari narasi besar perdagangan global.
Ofir bukan hanya kota dalam buku sejarah, Tapi puisi yang ditulis oleh bumi dan dijaga oleh hujan.
Penutup
Ofir, di antara kenangan dan harapan menjadikan Ofir di Pasaman Barat menjadi cermin dari Indonesia yang dibentuk oleh perdagangan, kolonialisme, dan perlawanan.
Kini, saat dunia bergerak cepat ke era digital dan industri 4.0, Ofir mengajarkan bahwa modernitas bukan selalu tentang beton dan baja.
Ia bisa juga berupa ingatan, budaya, dan tanah yang masih menumbuhkan kelapa, kelapa sawit, kopi, karet, nilam, lada dan pala dari akar-akar masa silam.
Di ujung barat Sumatera, ada Ofir yang tidak lagi menunggu kapal-kapal dagang, tapi tetap menjadi dermaga —bagi mereka yang mencari jati diri dan sejarahnya. [WT, 20/6/2025].
Ditulis Oleh: Wahyu Triono KS, Akademisi dab Praktisi Kebijakan Publik. Founder LEADER dan CIA Indonesia dan Tenaga Ahli Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementeria Dalam Negeri RI.



