Korannusantara.id – Makkah, 1 Juni 2025, Menjelang puncak ibadah haji, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii bersama rombongan Amirul Hajj menyapa jemaah haji Indonesia di salah satu hotel di Makkah. Dalam kesempatan tersebut, Syafii mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kondisi fisik dan mental menjelang wukuf di Arafah, momen puncak dari seluruh rangkaian haji.
“Alhamdulillah, hingga saat ini tidak ada keluhan serius terkait penerbangan. Bahkan, jadwal penerbangan tahun ini lebih tepat waktu dibanding tahun lalu,” ujar Wamenag saat bertemu jemaah di Hotel 312, Makkah, Ahad (1/6/2025).
Turut hadir dalam rombongan Amirul Hajj antara lain mantan Menko PMK Muhadjir Effendy dan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan. Wamenag menegaskan bahwa kehadiran Amirul Hajj di Tanah Suci bertujuan untuk mendampingi jemaah dan memastikan seluruh layanan berjalan optimal.
Armuzna: Titik Krusial yang Butuh Kesiapan Total
Sekjen MUI Amirsyah Tambunan mengingatkan jemaah agar fokus dan siap menghadapi rangkaian ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), yang akan dimulai pada 8 Zulhijah.
“Tiga tempat ini adalah titik krusial dalam puncak ibadah haji. Fisik, mental, dan spiritual harus prima. Petugas juga harus memberikan pelayanan terbaik,” ujar Amirsyah.
Ia juga merinci perlengkapan yang wajib disiapkan jemaah agar tidak tertinggal dari rombongan dan mempermudah petugas, antara lain:
Pakaian ihram lengkap, sabuk, gelang identitas, gelang maktab, dan tanda pengenal lain;
Tas paspor, berisi kartu kesehatan, buku doa, dompet, obat-obatan, dan multivitamin;
Tas tenteng, berisi baju ganti, kain ihram cadangan, Al-Qur’an, dan alat komunikasi pribadi.
“Jangan ada yang tertinggal. Jika semua jemaah disiplin, petugas juga akan lebih mudah bekerja,” tegasnya.
Haji Mabrur: Kunci Perubahan Sosial Bangsa
Lebih dari sekadar ibadah, Amirsyah juga menekankan pentingnya mengejar makna spiritual dari haji: meraih predikat haji mabrur. Ia mengutip sabda Rasulullah Saw.:
“Haji mabrur, tiada balasan lain kecuali surga.”
“Apa tandanya haji mabrur?” Sahabat bertanya.
Rasulullah menjawab, “Memberi makan kepada orang lain dan berkata baik.” (H.R. Ahmad, At-Thabrani, Al-Baihaqi)
Menurutnya, dengan lebih dari 221 ribu jemaah haji Indonesia setiap tahun, potensi sosial yang lahir dari haji mabrur sangat besar. Bila setiap jemaah pulang sebagai pribadi yang peduli, santun, dan menyejukkan, maka dampaknya akan terasa dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Semakin banyak haji mabrur, semakin besar peluang Indonesia bangkit dari krisis—baik krisis akhlak, ekonomi, politik, maupun budaya,” pungkasnya.
Doa dan Harapan untuk Negeri
Puncak ibadah haji tinggal hitungan hari. Pemerintah, melalui Amirul Hajj, berharap seluruh jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, sehat, dan terorganisir. Lebih dari itu, mereka diharapkan kembali sebagai pribadi yang siap berkontribusi positif bagi Indonesia.
Mari kita doakan, semoga para haji Indonesia meraih kemabruran sejati—dan dari Tanah Suci, lahirlah energi baru untuk membangun negeri.



