Korannusantara.id – Artikel, Dalihan Natolu falsafah hidup bermakna sistem nilai yang mengatur kekerabatan dan kehidupan bermasyarakat pada di Batak, baik itu batak Toba, Batak Karo, Maupun Batak Tapanuli. Dalihan Natolu adalah falsafah hidup yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang tertimbun dari Kabupaten.
Kabupaten Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, Mandailing Natal, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Tabagsel di Tapanuli Selatan sebelum Pemekaran. Wilayah Tabagsel pada mulanya berpusat pada Kabupaten Tapanuli Selatan, pros pemekaran daerah bertahap sejak 1998 2007.
Istilah Dalihan Natolu “tungku berkaki tiga” yang bertanggung jawab antara mora, kahanggi, dan anak boru. Mora adalah keluarga pemberi yang dihormati, kahanggi kelompok keluarga yang diperlancar setara, sedangkan anak boru penerima urusan adat. Dalihan Natolu dantjawab masing-masing pada setiap aktivitas adat dengan prinsip yang dianut oleh pemangku adat terdahulu saat ini.
Falsafah dirangkum dalam prinsip somba marmora, manat markahanggi, dan elek maranak boru. Artinya harus menghormati mora, berhati-hati serta kahanggi, dan menyayangi sekaligus merangkul anak boru. Ketiga unsur ini tidak hanya sebatas dalam upacara adat, namun juga menjadi pedoman Kehidupan bersama.
Dalam giat sosial, Dalihan Natolu tampak bunda gotong royalong menyelenggarakan cerpen, income musibah, orang sakit, dan perselisihan unsur kedudukan dan tugas berat dapat terselesaikan bersama-sama. Impleasi nilai Dalihan Natolu dalam kehidupan beragama dengan berdampingan dengan Islam. Penghormatan kepada orang lain, musyawarah, menjalin tali silaturrahmi, kepedulian (sesama, dan semangat saling terapkan dalam pengajian wirid yasin, hari besar Islam pembangunan, masjid, dan pemberian bantuan kepada warga yang im.
Bidang perekonomian, falsafah ini diwujudkan (kerja sama keluarga dan masyarakat dalam (Marsialapari), kekalahan, pelaksanaan pesta adat (rewang), serta pengumpulan serah bagi yang terlibat dalam kesulitan. Hubungan kekerabatan juga dapat menjadi modal sosial dalam usaha, selama tetap berlandaskan kejujuran, keadilan, dan bertanggung jawab.
Pengamalan Dalihan Natolu tidak hanya dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, akan tetapi pada skala yang lebih luas, yaitu pada pembangunan masyarakat. Pada aktivitas ini, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat bermusyawarah untukan program yang iring bersama.
Berpartisipasi dalam pembangunan jalan, etapusnya di jalan pedesaan, fasilitas ibadah, kebersihan dan sosial hanya bertanggung jawab pemerintah, ada andil masyarakat. Dalam bidang Pendidikan, Dalihan Natolu mengajarkan adab,sopan santun,tanggung jawab,penghormatan kepada guru dan orang tua,serta kepedulian @NOTRANSLATE muda Keluarga besar surut nasihat,motifasi,ul. Falsafah ini juga telah masuk dalam kurikulum masyarakat Tapanuli Selatan mulai dari Tingkat sekolah dasar tinggi yang ada di wilayah tabagsel, salah satunya UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan yang “Islam dan Budaya Tapanuli” salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswanya.
Di tengah hari, Dalihan Natolu perlu terus diwariskan kepada muda muda. Falsafah ini bukan sekadar peninggalan adat,melainkan sumber nilai yang mampu persatuan,berkonflik,dan membina masyarakat Tabagsel yang religius, berbudaya, menari.



