Korannusantara.id – MEDAN, PD II GM FKPPI bersama Satgas PD II GM FKPPI Sumatera Utara mengecam dugaan penyerangan terhadap massa aksi yang tengah menyampaikan aspirasi di depan Capital Building Medan, Kamis (11/9/2026).
Aksi tersebut merupakan bentuk kontrol sosial terhadap sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat, di antaranya dugaan peredaran narkotika, dugaan penjualan minuman beralkohol tanpa kelengkapan pita cukai resmi, serta dugaan persoalan perpajakan.
Namun, aksi yang disebut berlangsung untuk menyampaikan aspirasi itu diduga diwarnai tindakan kekerasan. Sejumlah peserta aksi dikabarkan diserang oleh orang tidak dikenal (OTK).
Atas kejadian tersebut, Satgas PD II GM FKPPI Sumut mendesak aparat penegak hukum tidak hanya mengungkap pelaku di lapangan, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang menggerakkan atau memfasilitasi penyerangan.
“Kalau benar ada pihak yang mengerahkan OTK, jangan hanya menangkap pelaksana. Bongkar siapa aktor di baliknya,” tegas Kabid Hukum dan HAM Satgas GM FKPPI Sumut, Sutoyo, S.H.
Menurut Sutoyo, dugaan penyerangan tersebut merupakan persoalan serius karena berpotensi mengganggu kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum.
“Kami mengecam keras dugaan penyerangan terhadap massa aksi. Jangan berpikir suara kami bisa dibungkam dengan intimidasi. Kami tidak takut dan tidak akan mundur,” ujarnya.
Sutoyo juga mempertanyakan pengamanan aparat kepolisian saat kejadian. Berdasarkan keterangan pengurus yang berada di area parkiran gedung, disebutkan terdapat sejumlah personel kepolisian di sekitar lokasi ketika dugaan penyerangan berlangsung.
“Kami mendapat informasi bahwa personel kepolisian berada di lokasi. Karena itu kami mempertanyakan, ketika massa aksi diduga diserang, mengapa tidak terlihat tindakan tegas terhadap pihak yang melakukan penyerangan?” katanya.
Ia menegaskan, aparat kepolisian harus memastikan keamanan seluruh pihak secara adil, baik peserta aksi maupun pihak yang berada di lokasi.
“Polisi harus memberikan penjelasan mengenai pola pengamanan saat kejadian. Jangan sampai muncul kesan aparat hanya tegas kepada massa yang menyampaikan kritik, sementara dugaan kekerasan terhadap peserta aksi tidak ditangani secara serius,” ujar Sutoyo.
Menurutnya, setiap kegiatan aksi sebelumnya telah dikomunikasikan kepada pihak kepolisian agar pelaksanaan berjalan aman dan tertib.
“Setiap aksi selalu kami komunikasikan titik dan agenda kepada pihak kepolisian. Tujuannya agar kegiatan berjalan aman dan tertib. Karena itu, ketika terjadi dugaan penyerangan, kami meminta aparat segera melakukan penyelidikan secara terbuka,” katanya.
Desak Kapolda Sumut Usut Penyerangan
PD II GM FKPPI dan Satgas PD II GM FKPPI Sumut mendesak Kapolda Sumatera Utara untuk memberikan perhatian serius terhadap dugaan penyerangan tersebut.
Mereka meminta aparat:
1. Mengusut tuntas dugaan penyerangan terhadap massa aksi.
2. Mengidentifikasi seluruh pihak yang diduga terlibat.
3. Menelusuri kemungkinan adanya pihak yang menggerakkan atau mengoordinasikan penyerangan.
4. Memeriksa personel kepolisian yang berada di sekitar lokasi saat kejadian.
5. Mengamankan dan memeriksa rekaman CCTV serta alat bukti lainnya.
6. Menelusuri kemungkinan keterkaitan pihak penyerang dengan pihak-pihak tertentu yang berkepentingan di lokasi.
7. Menyampaikan hasil penanganan perkara secara transparan kepada publik.
Sutoyo menegaskan, pihaknya tidak menginginkan konflik, melainkan meminta agar proses hukum berjalan secara adil dan transparan.
“Kami tidak mencari keributan. Kami hanya menuntut hukum ditegakkan. Diam bukan berarti takut. Kami akan mengawal persoalan ini sampai terang siapa yang bertanggung jawab atas dugaan penyerangan tersebut,” tegasnya.
Ia juga mengatakan pihaknya akan menempuh langkah hukum dan mempertimbangkan aksi lanjutan apabila dugaan penyerangan tersebut tidak ditangani secara serius.
“Kami meminta semua pihak menahan diri dan menyerahkan prosesnya kepada aparat penegak hukum. Yang kami tuntut adalah kejelasan, transparansi, dan penegakan hukum,” pungkas Sutoyo.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pengelola Capital Building terkait dugaan penyerangan tersebut. Konfirmasi dan klarifikasi dari pihak terkait masih dinantikan.



