• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Artikel

Alumni ITB – PSEL di Indonesia: Bahan Bakarnya Sampah, Tarif Listriknya Seolah Berbahan Emas

2x Vietnam

Redaksi by Redaksi
19 Juli 2026
in Artikel
0
Alumni ITB – PSEL di Indonesia: Bahan Bakarnya Sampah, Tarif Listriknya Seolah Berbahan Emas
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Jakarta, Sampah memang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Namun, apabila biaya pengolahan dan harga jual listriknya terlalu tinggi, maka manfaat ekonominya perlu dikaji secara kritis.

Sebagai perbandingan, Vietnam selama bertahun-tahun menetapkan tarif listrik untuk pembangkit listrik tenaga sampah (waste-to-energy) sekitar US$. 0,1005 per kWh (10,05 sen/kWh). Kebijakan tersebut dirancang agar proyek tetap layak secara ekonomi, namun tidak membebani sistem ketenagalistrikan secara berlebihan.

Sementara itu, di Indonesia terdapat proyek PSEL/PLTSa yang menggunakan skema harga jual listrik sekitar US$.0,20 per kWh, atau hampir dua kali lipat dibandingkan tarif yang diterapkan di Vietnam.

Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan yang patut dijawab secara terbuka: mengapa listrik yang dihasilkan dari sampah di Indonesia harus dibeli dengan harga jauh lebih mahal dibandingkan negara tetangga?

Apabila bahan bakarnya sama-sama berasal dari sampah, maka efisiensi investasi, biaya operasi, teknologi, skema pembiayaan, serta manfaat sosial dan lingkungan perlu dievaluasi secara transparan agar setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Di tengah kebutuhan pembiayaan pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur, setiap kebijakan energi harus mempertimbangkan prinsip efisiensi dan kepentingan publik. Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap skema tarif PSEL di Indonesia menjadi penting agar pengelolaan sampah tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga mencerminkan tata kelola yang efektif, adil, dan bertanggung jawab.

Kalau tarif listrik PSEL di Indonesia hampir dua kali lebih mahal daripada Vietnam, maka publik berhak bertanya: apakah yang dibakar benar-benar sampah, atau justru anggaran negara?

Views: 161
Tags: Alumni ITBBahan Bakar SampahPSELVietnam
Previous Post

IYE : Kuasa Hukum Eks Jampidsus Hotman Paris Statementnya Sangat Memperkeruh, Jangan Aduh Kapolri dengan Presiden

Next Post

Pelantikan Pengurus DPD Mahajaya Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan Dihadiri Forkopimda, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Daerah

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Pelantikan Pengurus DPD Mahajaya Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan Dihadiri Forkopimda, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Daerah

Pelantikan Pengurus DPD Mahajaya Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan Dihadiri Forkopimda, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.