• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Nasional

Happy Bone: Bertanding untuk Bersanding Harus Jadi Semangat Baru Kosgoro 1957

Redaksi by Redaksi
7 Juni 2026
in Nasional
0
Happy Bone: Bertanding untuk Bersanding Harus Jadi Semangat Baru Kosgoro 1957

Ket : Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam pembukaan Mubes Kosgoro 1957.

0
SHARES
36
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Korannusantara.id – Jakarta, Musyawarah Besar (Mubes) V Kosgoro 1957 dinilai harus menjadi momentum memperkuat persatuan dan konsolidasi organisasi pasca kontestasi kepemimpinan. Semangat “bertanding untuk bersanding” yang disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam pembukaan Mubes disebut menjadi pesan penting bagi seluruh kader Kosgoro 1957.

Pandangan tersebut disampaikan Kader Kosgoro 1957, Happy Bone Zulkarnain, dalam refleksinya terhadap pelaksanaan Mubes V Kosgoro 1957 yang telah menetapkan Sari Yuliati sebagai Ketua Umum Kosgoro 1957 periode mendatang.

Menurut Happy, Mubes bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, melainkan bagian dari proses demokrasi organisasi untuk menjaga kesinambungan sejarah, memperkuat kaderisasi, serta menentukan arah perjuangan organisasi ke depan.

“Kosgoro 1957 memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa dan Partai Golkar. Karena itu, setiap momentum pergantian kepemimpinan harus dimaknai sebagai upaya memperkuat organisasi, bukan memecah belah kader,” ujar Happy dalam keterangannya, Minggu.

Ia menjelaskan, Kosgoro 1957 merupakan salah satu organisasi pendiri Partai Golkar bersama SOKSI dan MKGR. Dalam perjalanan sejarahnya, organisasi tersebut telah melahirkan banyak kader yang berkiprah di berbagai bidang pengabdian, baik di legislatif, eksekutif, dunia usaha maupun organisasi kemasyarakatan.

Happy juga mengingatkan bahwa regenerasi kepemimpinan merupakan bagian penting dari kehidupan organisasi yang sehat. Estafet kepemimpinan di Kosgoro 1957, kata dia, telah berjalan dari Agung Laksono, kemudian Dave Akbarsyah Laksono, hingga kini berlanjut kepada Sari Yuliati yang terpilih melalui Mubes V.

Meski dalam pelaksanaan Mubes sempat terjadi dinamika dan ketegangan di antara peserta, Happy menilai hal tersebut harus dilihat secara proporsional sebagai bagian dari proses demokrasi dalam organisasi besar.

“Yang terpenting adalah bagaimana seluruh kader menyikapi hasil Mubes. Jangan sampai perbedaan pilihan dalam kompetisi menghilangkan semangat persaudaraan dan solidaritas yang selama ini menjadi fondasi organisasi,” katanya.

Ia mengapresiasi sikap kedua kandidat Ketua Umum, yakni Sari Yuliati dan Laode Syafiul Akbar, yang sama-sama menyampaikan komitmen untuk menjaga persatuan serta merangkul seluruh kader pasca pelaksanaan Mubes.

Menurutnya, dalam organisasi yang matang, kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan dan kekalahan tidak boleh menimbulkan keterasingan. Setelah kompetisi berakhir, seluruh kader memiliki tanggung jawab yang sama untuk membesarkan organisasi.

Happy menegaskan bahwa Kosgoro 1957 ke depan menghadapi berbagai tantangan strategis, mulai dari penguatan kaderisasi, peningkatan peran generasi muda, kontribusi terhadap Partai Golkar, hingga keterlibatan aktif dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Karena itu, seluruh energi organisasi perlu kembali disatukan dengan berpegang pada tiga pilar utama Kosgoro 1957, yakni Pengabdian, Kerakyatan, dan Solidaritas.

“Pengabdian mengajarkan bahwa jabatan adalah sarana untuk memberi manfaat. Kerakyatan menegaskan bahwa perjuangan harus berorientasi pada kepentingan rakyat. Sementara solidaritas mengingatkan bahwa sesama kader adalah saudara seperjuangan yang harus saling menguatkan,” ujarnya.

Ia berharap Mubes V Kosgoro 1957 nantinya dikenang bukan karena dinamika yang terjadi selama proses berlangsung, melainkan karena keberhasilannya melahirkan kepemimpinan baru sekaligus memperkuat persatuan organisasi.

“Mubes telah selesai. Saatnya seluruh kader kembali bergandengan tangan, memperkuat organisasi, dan melanjutkan pengabdian kepada rakyat, bangsa, dan negara,” tutupnya.

160
Tags: Bertanding untuk BersandingHappy BoneKetum Golkar Bahlil LahadaliaSemangat Baru Kosgoro 1957
Previous Post

Transformasi Penanganan Konflik Agraria Deli Serdang, Kementerian HAM RI Hadirkan Model Penyelesaian Berbasis Hak Publik

Next Post

Gebrakan Natalius Pigai Dorong Sipil Masuk Jabatan Utama Polri, Ini Alasannya

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Gebrakan Natalius Pigai Dorong Sipil Masuk Jabatan Utama Polri, Ini Alasannya

Gebrakan Natalius Pigai Dorong Sipil Masuk Jabatan Utama Polri, Ini Alasannya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Segenap Pimpinan & Staf DPRD Kota Padangsidimpuan

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.