Korannusantara.id – Jakarta, Menjelang target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pencapaian pilar lingkungan. Hal ini disampaikan Peneliti FESD INDEF, Annisa Utami Kusumanegara dalam podcast What’s on Economy. Dalam diskusi tersebut dijelaskan posisi Indonesia saat ini berada di peringkat 77 dari 167 negara dalam capaian SDGs dunia.
Menurutnya, kendala utama bukan hanya soal teknis dan pendanaan, tetapi juga minimnya political will dalam menjadikan SDGs sebagai acuan utama kebijakan pembangunan. Implementasi SDGs dinilai masih sebatas pelabelan program, belum menjadi prioritas pembangunan yang serius.
“Ketika political will-nya tidak ada, maka SDGs hanya menjadi label administratif. Padahal seharusnya ada prioritas yang jelas terkait indikator mana yang paling mendesak untuk diselesaikan,” ujar Annisa.
Ia juga menyoroti dampak pandemi COVID-19 yang memperlambat capaian SDGs, ketimpangan kapasitas daerah, lemahnya kualitas data lingkungan, hingga terbatasnya alat pemantauan kualitas udara di berbagai wilayah.
Selain pemerintah, sektor usaha disebut memiliki tanggung jawab penting melalui penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan. Persoalan sampah plastik dan pengelolaan limbah dinilai perlu difokuskan sejak hulu dengan mendorong perubahan perilaku masyarakat dan tanggung jawab produsen.
“Problem besarnya adalah bagaimana mengurangi sampah sejak awal. Itu bukan hanya tanggung jawab konsumen, tetapi juga produsen,” jelasnya.
Di akhir diskusi, Annisa mengajak masyarakat lebih aktif mendukung pembangunan berkelanjutan melalui partisipasi publik dan pola konsumsi yang ramah lingkungan.
“Terlepas apakah targetnya tercapai atau tidak, tujuan pembangunan berkelanjutan tetap worth it untuk diupayakan,” tutupnya.



