Korannusantara.id – YOGYAKARTA, Aktivis Reformasi 1998 sekaligus pencipta lagu “Darah Juang”, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang dikenal sebagai John Tobing, meninggal dunia pada Rabu malam, 25 Februari 2026, sekitar pukul 20.45 WIB. Almarhum wafat dalam usia 61 tahun saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito.
“Betul mas, ini saya baru saja sampai di RSA UGM dan bertemu dengan keluarga John,” ujar Arie saat dikonfirmasi, Rabu (25/2).
John Tobing diketahui telah menjalani perawatan di RSA UGM sejak pertengahan Desember 2025 akibat stroke yang dideritanya. Meski sempat mendapatkan penanganan intensif, kondisinya terus menurun hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Rabu malam.
Rencananya, jenazah almarhum akan dimakamkan di Prambanan pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Profil Singkat
Johnsony Maharsak Lumban Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965. Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara, pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga.
John Tobing dikenal luas sebagai aktivis mahasiswa era Reformasi 1998.
Namanya lekat dengan lagu “Darah Juang”, karya yang menjadi himne gerakan mahasiswa saat gelombang Reformasi mengguncang Indonesia. Hingga kini, lagu tersebut masih kerap dinyanyikan dalam berbagai aksi demonstrasi sebagai simbol semangat perjuangan dan idealisme mahasiswa.
Selain dikenal sebagai aktivis dan musisi, John Tobing juga merupakan alumni Fakultas Filsafat UGM. Pemikiran dan kiprahnya dalam gerakan mahasiswa menjadikannya salah satu figur yang dikenang dalam sejarah perjuangan Reformasi.
Kepergian John Tobing meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan-rekannya di dunia aktivisme maupun seni. Warisan karya dan semangat perjuangannya akan terus hidup dalam ingatan banyak orang.



