Catatan Seorang Ketua KAMMI Jawa Barat.
oleh : Izus Salam
Korannusantara.id Bandung — Pergantian tahun menjadi momentum refleksi bagi Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jawa Barat, Izus Salam, dalam menegaskan kembali arah kepemimpinan dan peran strategis gerakan mahasiswa di tengah dinamika sosial dan kebijakan publik yang semakin kompleks.
Dalam catatan reflektif Tahun Baru, Izus Salam menilai bahwa kepemimpinan dalam gerakan mahasiswa tidak sekadar soal jabatan struktural, melainkan amanah moral dan intelektual yang harus dijalankan secara konsisten. Menurutnya, pergantian tahun bukan hanya momen evaluasi personal, tetapi juga saat menimbang tanggung jawab kolektif organisasi terhadap umat dan masyarakat luas.
“Kepemimpinan gerakan mahasiswa adalah tanggung jawab untuk menjaga idealisme tetap hidup sekaligus memastikan gerakan tidak kehilangan arah dan relevansi,” ujarnya.
Izus menekankan bahwa sepanjang tahun yang berlalu, ia belajar bahwa semangat perjuangan saja tidak cukup. Gerakan mahasiswa, termasuk KAMMI, membutuhkan disiplin berpikir, ketajaman membaca konteks, serta keberanian mengambil sikap yang tidak selalu populer di ruang publik.
Ia juga menyoroti posisi KAMMI yang kerap dipandang sebagai kekuatan kritis. Namun, kritik yang tidak disertai kedalaman analisis, menurutnya, berpotensi menjadikan gerakan mahasiswa bersifat reaktif dan mudah dilupakan.
“Kritik harus disertai gagasan. Mahasiswa tidak cukup hanya menolak atau menuntut, tetapi juga hadir menawarkan alternatif dan terlibat secara strategis dalam proses kebijakan publik, tanpa kehilangan independensi moral,” katanya.
Lebih lanjut, Izus menilai bahwa jarak antara idealisme dan kebijakan publik sering kali muncul akibat minimnya partisipasi bermakna dan lemahnya basis pengetahuan dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, gerakan mahasiswa diharapkan mampu menjadi jembatan antara nurani publik dan rasionalitas kebijakan.
Memasuki tahun baru, Izus menegaskan resolusinya untuk memastikan KAMMI Jawa Barat tidak sekadar menjadi penonton atau pengganggu dalam proses pembangunan, melainkan tampil sebagai mitra kritis yang berkontribusi secara substantif.
“KAMMI Jabar harus mampu mengartikulasikan kegelisahan umat dan rakyat dalam bahasa kebijakan yang bisa dipahami dan dipertimbangkan oleh para pengambil keputusan. Jika tidak, suara kita hanya akan menjadi gema di jalanan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan gerakan harus dibangun di atas keteladanan. Integritas, menurut Izus, tidak cukup dideklarasikan, tetapi harus dibuktikan melalui konsistensi sikap, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian untuk mengoreksi diri.
Di tengah dinamika politik yang terus berkembang, KAMMI Jawa Barat didorong untuk memperkuat perannya sebagai ruang kaderisasi intelektual. Gerakan mahasiswa yang tidak berinvestasi pada pengetahuan dinilai akan kehilangan daya tawar di ruang publik.
“Oleh karena itu, penguatan tradisi kajian, advokasi berbasis data, dan keterlibatan terukur dalam proses kebijakan publik, baik lokal maupun nasional, harus menjadi resolusi kolektif,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Izus Salam mengajak seluruh kader KAMMI, khususnya di Jawa Barat, untuk memahami bahwa perjuangan tidak selalu diukur dari seberapa cepat kemenangan diraih, melainkan seberapa konsisten arah perjuangan dijaga.
“Tahun baru bukan janji perubahan instan, tetapi undangan untuk bekerja lebih sabar, lebih cerdas, dan lebih bertanggung jawab,” pungkasnya.



