Korannusantara.id – OPINI, Pemuda tidak identik dengan ketidaksiapan. Dalam politik modern, justru energi, gagasan, dan keberanian mengambil risiko adalah modal utama dalam kepemimpinan.
Keberanian pemuda untuk maju sebagai Ketua DPD bukanlah tindakan melawan senioritas, melainkan upaya memperkuat kepercayaan pemilih yang hari ini didominasi oleh generasi muda.
Regenerasi bukanlah penghapusan sejarah, tetapi kelanjutan yang bermartabat. Tanpa regenerasi, struktur hanya menjadi museum kekuasaan. Besar secara nama, tapi sepi akan makna.
Pemuda yang berani mengambil tanggung jawab kepemimpinan adalah tanda partai yang sehat. Sebaliknya, partai yang takut pada pemuda adalah partai yang sedang mengalami krisis keberlanjutan. Politik yang menutup pintu bagi pemuda, seyogyanya sedang menutup masa depannya sendiri. Musda Golkar Sumut seharusnya mencatat satu hal penting: kepemimpinan bukan soal siapa yang paling lama duduk, tetapi siapa yang paling siap berdiri di depan perubahan.
Berbicara tentang Pemuda Sosok Hendri Yanto Sitorus, Bupati Kabupaten Labuhanbatu Utara, adalah salah satu representasi generasi muda dengan rekam jejak politik yang jelas dan teruji. Hendri Yanto Sitorus memulai karir politiknya sebagai anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu Utara pada periode 2014-2019, kemudian melanjutkan periode kedua 2019-2020 sebelum mengundurkan diri untuk maju dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2020 sebagai Calon Bupati Labuhanbatu Utara. Keputusan politik tersebut bukan langkah instan, melainkan bentuk keberanian mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Hasilnya, Hendri Yanto Sitorus memenangkan Pilkada dan hingga kini menjabat sebagai Bupati Labuhanbatu Utara. Rekam jejak ini menunjukkan kematangan politik, kemampuan kepemimpinan, serta kepercayaan publik yang nyata.
Sosok Politisi Muda yang dikenal dekat dengan kalangan pemuda dan para Ulama, Hendri Yanto Sitorus dinilai memiliki kapasitas dan layak untuk menahkodai DPD Golkar Sumatera Utara.
Musda bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah masa depan. Karena pada akhirnya, “pemuda bukan masa depan yang ditunggu, tetapi kekuatan yang harus diberi ruang hari ini.”



