Korannusantara.id – Jakarta, 11 September 2025, Demonstrasi yang semula berlangsung damai di Nepal berubah menjadi tragedi berdarah. Aksi yang dipicu larangan pemerintah terhadap 26 platform media sosial, termasuk Twitter, Facebook, dan Instagram, berujung bentrokan dengan aparat keamanan. Setidaknya 30 pemuda tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka.
Gerakan ini digerakkan oleh Generasi Z mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 generasi digital yang akrab dengan media sosial. Di Nepal, Gen Z tidak hanya menggunakan media sosial untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana ekspresi, peluang kerja, hingga alat mobilisasi massa.
Flexing Anak Pejabat Jadi Sumbu Ledakan
Ketegangan sosial semakin panas ketika anak-anak pejabat memamerkan gaya hidup mewah di media sosial. Video pesta, barang branded, hingga perjalanan ke luar negeri kontras dengan kenyataan pahit jutaan rakyat yang hidup dalam kemiskinan.
Bank Dunia mencatat tingkat pengangguran pemuda Nepal mencapai 20,8% pada 2024. Kontras inilah yang memicu kemarahan publik. Foto dan video flexing itu viral di TikTok, memunculkan tagar global #NepoKids, dan menyeret dugaan praktik korupsi pejabat tinggi. Pepatah lama kembali bergema: “Anak membawa orang tua ke penjara.”
Larangan Medsos, Api Menjadi Kobaran
Pada 4 September 2025, pemerintah Nepal resmi melarang 26 platform media sosial dengan dalih ketidakpatuhan terhadap regulasi baru. Namun publik melihatnya sebagai upaya membungkam kritik. Empat hari kemudian, 8 September, massa turun ke jalan.
Aksi yang dipimpin Gen Z itu menuntut transparansi, akuntabilitas, serta pencabutan larangan media sosial. Bentrokan pun tak terhindarkan. Gedung pemerintahan seperti Singha Durbar dan parlemen terbakar. Tekanan rakyat akhirnya membuat Perdana Menteri K.P. Sharma Oli mundur pada 9 September.
Psikologi di Balik Flexing
Fenomena flexing bukan hal baru. Secara psikologis, perilaku memamerkan kekayaan kerap berakar pada kebutuhan akan validasi eksternal. Mereka mencari “like” dan komentar pujian untuk menutupi rasa tidak aman. Di sisi lain, ada pula unsur narsisme haus akan kekaguman dan citra diri yang megah.
Namun, ketika flexing dilakukan tanpa empati sosial, dampaknya bisa meluas. Dari sekadar kecemburuan sosial, bertransformasi menjadi amarah kolektif yang menggerus stabilitas politik, seperti yang kini terjadi di Nepal.
Pelajaran untuk Dunia
Revolusi Gen Z di Nepal menjadi peringatan global tentang betapa besar pengaruh media sosial di era digital. Ekspresi diri bisa membuka peluang, tapi juga berpotensi memicu konflik bila tak disertai kepekaan sosial.
Bagi Gen Z di mana pun berada, termasuk di Indonesia, peristiwa ini mengajarkan satu hal: media sosial adalah cermin identitas sekaligus senjata perubahan. Namun penggunaannya harus bijak, agar tidak berubah menjadi api yang membakar rumah bersama.



