• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Opini

Kekagumanku Pada Instruktur HMI di Tahun 90-an : Sebuah Renungan Untuk Pengkaderan HMI Hari Ini

Adis by Adis
27 Mei 2025
in Opini
0
Kekagumanku Pada Instruktur HMI di Tahun 90-an : Sebuah Renungan Untuk Pengkaderan HMI Hari Ini
0
SHARES
54
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muhammad Bardansyah, Alumni LKI HMI Tahun 1990

Korannusanatara.id – Opini,  Sebelum menjadi mahasiswa FISIP USU angkatan 1989, aku sudah merasa cukup matang secara organisasi. Dari bangku SMA aku dikenal aktif, sering berdebat, dan terbiasa memimpin. Bahkan sejak sekolah dasar, aku telah aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Tak hanya di organisasi, dunia musik juga pernah membawaku mewakili Indonesia ke ajang internasional seperti World Music Contest di Belanda, Wereld Jugend Musik di Swiss, dan Hammar Janitsjaar Festivalen di Norwegia pada 1985.

Sebelum keberangkatan, kami dilatih tentang hospitality oleh instruktur dari John Robert Powers dan institusi profesional lainnya. Pengalaman yang membentuk kepercayaan diri tinggi saat memasuki dunia kampus.

Karena itu, ketika memutuskan mengikuti Latihan Kader I Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), aku menganggapnya sekadar pelatihan biasa. Ternyata aku salah besar.

Instruktur yang Menyihir dan Menghidupkan Ilmu

Latihan itu menjadi titik balik. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana para instruktur HMI saat itu tampil bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai guru kehidupan. Mereka membekas dalam ingatan dan jiwa. Bang Hadhy Priono memperkenalkanku pada dunia pers secara mendalam—bukan sekadar bagaimana menulis, tapi bagaimana sebuah tulisan bisa menggerakkan kesadaran.

Lalu ada Bang Marasunan Ritonga dan Bang AR Pilliang yang membawaku menyelami Filsafat Islam dengan pendekatan yang membumi, tajam, dan menginspirasi. Bang Sugih Permono, dengan kemampuan analisis politik yang luar biasa, membuatku sadar: inilah orang-orang yang benar-benar menggerakkan perubahan.

Satu minggu pelatihan seakan menjadi tamparan keras. Aku yang merasa “sudah jadi” sebelumnya, dibuat sadar betapa luas dan dalamnya dunia aktivisme mahasiswa. Mereka bukan motivator. Mereka menyalakan api berpikir kritis, ketegasan sikap, dan sekaligus menanamkan kerendahan hati.

Dibandingkan Pelatihan Internasional: HMI Tetap Menang di Hati

Setelah lulus kuliah, karier membawaku hingga menjadi Vice President di dua bank besar: Bank Danamon Indonesia dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation. Di sepanjang perjalanan itu, aku mengikuti pelatihan kelas dunia: dari Dunamis, Anthony Robbins, hingga Covey Leadership.

Namun, tak satu pun pelatihan itu mampu menyamai kedalaman dan dampak dari kaderisasi HMI tahun 90-an. Bukan hanya skill yang ditanamkan, melainkan karakter dan kesadaran intelektual. Para instruktur HMI tidak sekadar menyampaikan materi, mereka menghidupi ilmu yang mereka ajarkan.

Pertanyaan untuk HMI Hari Ini

Kini, aku hanya bisa bertanya dan merenung bersama kalian, kader HMI masa kini:

Masihkah HMI mampu melahirkan instruktur sehebat mereka?

Masihkah seorang kader baru bisa terpesona karena kedalaman ilmu dan ketajaman pikiran seorang senior?

Masihkah orang tua menyuruh anaknya masuk HMI dengan bangga, atau justru melihatnya sekadar sebagai organisasi biasa?

Di era informasi yang melimpah ini, tantangan HMI justru kian kompleks. Bukan lagi melawan kebodohan, tapi melawan banjir informasi tanpa makna. Bukan soal berkumpul semata, tapi soal menciptakan ruang diskusi yang mengubah cara berpikir.

Aku rindu pada HMI yang dulu—di mana setiap kata instruktur terasa seperti mutiara, di mana proses kaderisasi bukan sekadar formalitas, tapi penempaan jiwa yang sesungguhnya.

Al-Fatihah untuk Bang Marasunan Ritonga, Bang Sugih Permono, dan para senior hebat lainnya yang telah berpulang. Semoga Bang Hadhy Priono dan yang masih sehat senantiasa menjadi inspirasi.

Mari kita renungkan bersama.

474
Tags: Himpunan Mahasiswa IslamHMIInstruktur HMIKaderisasi HMI
Previous Post

Rektor UIN Mataram Bungkam,, Masa Aksi Evaluasi Empat Tahun Kepemimpinan Rektor dan Kasus Pelecehan Seksual di UIN Mataram

Next Post

MK Putuskan Pendidikan SD SMP Negeri dan Swasta Gratis, Kabid Pemuda Pengembangan Margasu : Harus Konkret dan Detail

Adis

Adis

Next Post
MK Putuskan Pendidikan  SD SMP Negeri dan Swasta Gratis, Kabid Pemuda Pengembangan Margasu : Harus Konkret dan Detail

MK Putuskan Pendidikan SD SMP Negeri dan Swasta Gratis, Kabid Pemuda Pengembangan Margasu : Harus Konkret dan Detail

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.