Korannusantara.id – JAKARTA, Mantan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta, Ade Adriansyah, SH, MH, menyampaikan keprihatinannya terhadap polemik somasi dan tuduhan dugaan intervensi politik dalam Kongres HMI ke-33.
Ade, yang juga pernah menjadi kandidat pada Kongres HMI di Pondok Gede ke 24 dan kini menjabat Sekretaris Jenderal BAPERSIPIL ( Barisan Penggerak Supremasi Sipil ), menilai dugaan intervensi harus disikapi secara objektif dengan mengedepankan bukti dan introspeksi internal organisasi.
Menurutnya, apabila terdapat dugaan campur tangan pihak luar dalam dinamika kongres, pihak yang menyampaikan tuduhan harus mampu menjelaskan secara terbuka siapa yang terlibat, bentuk intervensi yang terjadi, serta bagaimana proses komunikasi dan dukungan tersebut berlangsung.
“Kalau memang ada dugaan intervensi, buktikan. Jangan berhenti pada tuduhan,” demikian pandangan Ade dalam catatannya mengenai dinamika Kongres HMI.
Namun, ia menilai persoalan tersebut tidak seharusnya hanya diarahkan kepada elite politik atau partai yang dituding terlibat. Kader HMI juga perlu melakukan introspeksi apabila ada yang mendatangi elite demi memperoleh dukungan untuk memenangkan kontestasi internal organisasi.
“Jangan hanya mempertanyakan moral elite. Pertanyakan juga moral kader yang datang kepada elite,” tegasnya.
Kongres HMI Bukan Pertarungan Bandar
Ade menegaskan, HMI merupakan organisasi perkaderan yang semestinya menjadikan idealisme, integritas, gagasan, rekam jejak, dan kemampuan kepemimpinan sebagai tolok ukur dalam menentukan pemimpin.
Menurut dia, kualitas seorang calon pengurus tidak semestinya dinilai berdasarkan besarnya modal, fasilitas, jaringan kekuasaan, ataupun siapa elite yang berada di belakangnya.
“Kongres itu pertarungan gagasan, strategi dan taktik, bukan pertarungan bandar,” menjadi pesan utama yang disampaikan Ade kepada para kader HMI.
Ia mengingatkan agar kontestasi organisasi tidak bergeser menjadi arena perebutan dukungan elite yang berpotensi mengaburkan nilai-nilai independensi dan tradisi intelektual HMI.
Bagi Ade, apabila benar terdapat intervensi dari luar, kader harus berani menolaknya. Namun, penolakan tersebut juga perlu diwujudkan melalui sikap politik organisasi dan pilihan yang independen dalam menentukan calon pemimpin.
Ia mengajak kader untuk tidak memilih calon hanya karena tekanan, fasilitas, dukungan finansial, atau kedekatan dengan pihak yang memiliki kekuasaan.
Sebaliknya, pilihan harus didasarkan pada integritas, gagasan, rekam jejak, dan kemampuan calon dalam memimpin organisasi.
Jangan Salahkan Elite Jika Kader Sendiri Membuka Pintu
Dalam catatannya, Ade juga menyampaikan kritik terhadap sikap yang dinilainya kontradiktif ketika kader menolak campur tangan elite, tetapi pada saat bersamaan justru mendatangi elite untuk meminta dukungan.
“Jangan campuri HMI! Tetapi pada saat yang sama kita sendiri yang datang membawa proposal kepentingan kepada para elite. Itu namanya kita sedang membuka pintu, lalu menyalahkan orang yang masuk,” tulisnya.
Ia kemudian melontarkan pernyataan yang menjadi penekanan kritiknya terhadap dinamika tersebut.
“Jangan salahkan tangan yang masuk ke rumah kita, kalau kuncinya sendiri yang kita serahkan.”
Menurut Ade, independensi HMI tidak cukup hanya dijadikan slogan dalam setiap forum organisasi. Independensi harus tercermin dalam keberanian kader mengambil keputusan tanpa tunduk pada tekanan maupun kepentingan pihak lain.
Ia menilai HMI sebagai organisasi besar memiliki tradisi intelektual, perjuangan, independensi, dan kaderisasi yang harus terus dijaga. Karena itu, Kongres HMI semestinya menjadi ruang adu gagasan, visi, strategi, taktik, dan rekam jejak, bukan sekadar persaingan kekuatan finansial atau dukungan elite.
Ingatkan Kader Tidak Menggadaikan Idealisme
Ade berpesan kepada seluruh kader HMI agar tidak mengorbankan idealisme hanya demi memperoleh jabatan dalam struktur organisasi.
Menurutnya, jabatan dan kongres pada akhirnya akan berakhir, sedangkan nama baik, integritas, serta harga diri seorang kader akan melekat lebih lama.
Ia pun mengajak kader untuk berani melawan intervensi, menolak tekanan, dan tidak memilih calon yang dinilai mengorbankan idealisme demi kepentingan tertentu.
“HMI tidak membutuhkan bandar untuk menentukan masa depannya. HMI membutuhkan kader yang berani berpikir, berani berbeda, berani bertanding secara sehat, dan berani mempertanggungjawabkan pilihannya,” demikian pesan Ade.
Ia berharap polemik yang berkembang dapat menjadi momentum evaluasi bersama agar Kongres HMI ke-33 tetap menjunjung tinggi nilai independensi dan mengutamakan kualitas kader dalam menentukan arah masa depan organisasi.



