Korannusantara.id -JAKARTA, Akademisi dan pengamat sosial politik Rocky Gerung menyoroti keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam memenuhi berbagai ambisi pembangunan pemerintah. Menurutnya, ketika kebutuhan negara terus bertambah sementara kapasitas anggaran terbatas, pemerintah harus berani menentukan prioritas, termasuk dalam memilih antara program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan peningkatan kualitas pendidikan. Senin, 19/10/2026
Pandangan tersebut disampaikan Rocky dalam sebuah diskusi publik DISKUSI PUBLIK PASAL 33 UUD 1945: ANTARA DEMOKRASI EKONOMI, SOSIALISME DAN KAPITALISME Ia menegaskan bahwa tidak semua keinginan pemerintah dapat diwujudkan secara bersamaan karena setiap program membutuhkan dukungan anggaran yang memadai.
“Semua ambisi kekuasaan akan dibatalkan oleh APBN,” ujar Rocky, menggambarkan bagaimana keterbatasan fiskal dapat menjadi penghambat berbagai rencana pembangunan.
Menurut Rocky, persoalan utama bukan sekadar menentukan program mana yang lebih penting, melainkan bagaimana pemerintah mengalokasikan anggaran secara realistis agar kebijakan yang dipilih benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Keinginan tak terbatas, tapi kapasitas pasti terbatas, maka mesti dicicil,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, Rocky mengangkat dilema kebijakan antara pemenuhan gizi anak melalui program MBG dan peningkatan mutu pendidikan, termasuk kualitas tenaga pengajar.
Ia menilai, kedua sektor tersebut sama-sama penting. Namun, keterbatasan anggaran menuntut pemerintah untuk membuat pilihan yang mempertimbangkan kebutuhan mendasar generasi muda.
Rocky bahkan menyatakan kecenderungannya untuk memprioritaskan MBG dalam perdebatan tersebut. Baginya, pemenuhan nutrisi anak tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Ia mengingatkan bahwa guru yang berkualitas tidak akan sepenuhnya mampu mengoptimalkan proses pembelajaran apabila anak-anak yang diajarnya mengalami kekurangan gizi.
“Begitu gurunya pintar, anak-anak ini masuk SMA dengan otak yang kekurangan nutrisi, dia mau ajarin apa di situ?” kata Rocky.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan kompetensi guru. Kondisi fisik, kesehatan, dan kecukupan gizi peserta didik juga menjadi faktor penting dalam mendukung kemampuan mereka menyerap ilmu pengetahuan.
Rocky juga menyoroti pentingnya menyiapkan guru yang memiliki kemampuan mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan pada satu dekade mendatang.
Namun, menurut logika yang ia bangun dalam diskusi tersebut, peningkatan kualitas guru harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar siswa. Pendidikan yang baik membutuhkan peserta didik yang sehat dan memiliki kesiapan untuk belajar.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa keterbatasan APBN membuat pemerintah tidak bisa begitu saja menganggap seluruh program dapat dibiayai tanpa konsekuensi.
Karena itu, perdebatan mengenai MBG dan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan program mana yang paling populer atau paling mudah mendapat dukungan publik. Persoalan utamanya adalah menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dampak jangka panjang.
Pandangan Rocky tersebut membuka ruang diskusi mengenai bagaimana negara menyeimbangkan pemenuhan gizi, peningkatan mutu guru, pemerataan akses pendidikan, serta kebutuhan pembangunan lainnya.



