KORANNUSANTARA.ID — Masyarakat Marind di Kampung Matara, Salor, Merauke, Papua Selatan, mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan sagu di tengah perubahan pola konsumsi dan penggunaan lahan.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 pada 7 September 2026, masyarakat menyampaikan bahwa keberlanjutan sagu tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga menyangkut adat istiadat, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang diwariskan antargenerasi.
“Sagu habis, adat hilang.” Ungkapan tersebut menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan masyarakat dalam forum.
Bagi masyarakat Marind, sagu bukan semata bahan pangan yang dapat dihitung berdasarkan jumlah produksi atau nilai ekonominya.
Tanaman tersebut memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan budaya, termasuk pengetahuan mengenai pemanfaatannya serta nilai-nilai yang dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, perubahan yang mengancam keberadaan sagu turut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan warisan budaya masyarakat setempat.
FGD yang mempertemukan masyarakat, tokoh adat, pemerintah, unsur distrik, serta pihak yang menangani ketahanan pangan itu juga membahas perubahan pola konsumsi dari sagu menuju beras. Di sisi lain, perubahan penggunaan lahan menjadi perhatian karena berpotensi mengurangi ruang tumbuh sagu dan memengaruhi kondisi lingkungan.
Masyarakat berharap kebijakan pembangunan pangan dapat melihat kondisi tersebut secara menyeluruh, sehingga pengembangan sawah tidak mengesampingkan potensi pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Marind.



