KORANNUSANTARA.ID | MERAUKE — Pelestarian sagu sebagai warisan budaya masyarakat Papua mulai didorong melalui ruang pendidikan.
Tim Ekspedisi Patriot IPB University mengajak guru dan penyuluh pertanian memperkuat literasi pangan lokal agar generasi muda Merauke semakin mengenal sagu, memahami nilai budayanya, sekaligus melihat peluang pengembangannya sebagai produk ekonomi kreatif.
Upaya tersebut diwujudkan melalui workshop integrasi literasi pangan lokal sagu ke dalam kurikulum muatan lokal yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di SMAN 1 Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan sagu melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Ketua Tim 10 Ekspedisi Patriot IPB University, Tri Budiarto, SKPm, MSi, mengungkapkan adanya keresahan terhadap perubahan kebiasaan generasi muda dalam mengonsumsi sagu dan menjadikannya bagian dari budaya sehari-hari. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan semakin menyempitnya lahan sagu di tengah tekanan alih fungsi lahan.
Menurut Tim Ekspedisi Patriot, sekolah memiliki peran strategis dalam mengenalkan kembali sagu kepada generasi muda.
Pembelajaran mengenai komoditas lokal ini dapat mencakup sejarah dan tradisi, budidaya, pengolahan, nilai ekonomi, hingga peluang kewirausahaan yang dapat dikembangkan sesuai potensi daerah.
Dalam kegiatan tersebut, Untung, S.Pd., Kepala Bidang Pengendalian Perizinan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, memaparkan materi mengenai transformasi pendidikan.
Pembahasan tersebut memberikan perspektif tentang pembangunan pendidikan daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan pendidikan.
Sementara itu, Nila Sari Katemba, S.Pd., praktisi literasi pangan lokal dari Morowali, menekankan pentingnya pendekatan kreatif dan kontekstual untuk memperkenalkan sagu kepada generasi muda.
Selain memiliki nilai budaya, sagu dinilai berpotensi dikembangkan menjadi beragam produk pangan yang dapat mendukung UMKM dan membuka peluang usaha bagi anak muda.
Workshop juga dilengkapi praktik pengolahan tepung sagu menjadi cookies pada hari kedua. Peserta mempelajari proses pembuatan mulai dari persiapan bahan, pengadonan, pencetakan, hingga pemanggangan.
Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk inovatif dengan nilai tambah.
Mathelda, guru SMKN 5 Merauke, menyampaikan bahwa kegiatan praktik memberikan pemahaman baru mengenai ragam pemanfaatan sagu.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di sekolah sehingga siswa memiliki kesempatan mengenal sagu tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk kreatif.
Sebagai upaya menjaga keberlanjutan kegiatan, Tim Ekspedisi Patriot IPB University turut membagikan modul pembelajaran kepada peserta.
Materi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh guru dan penyuluh untuk memperluas pengenalan sagu di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Melalui penguatan literasi sagu, Tim Ekspedisi Patriot IPB University mendorong pendidikan menjadi penghubung antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi lokal.
Sagu diharapkan tetap dikenal sebagai bagian dari identitas masyarakat Papua, sekaligus membuka ruang inovasi dan kewirausahaan bagi generasi muda Merauke di tengah perubahan zaman.(Soly/Tri)



