Korannusantara.id, Jakarta – Analis Kebijakan Publik dan Sosial-Politik Nasional, Nasky Putra Tandjung menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh kepada institusi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo atas gerak cepat, kerja nyata, profesionalisme, dan dedikasi dalam menjalankan misi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Nasky Alumus INDEF School Of Political Economy Jakarta itu mengatakan, Dalam perspektif kebijakan publik, respons cepat Korps Bhayangkara terhadap bencana tersebut tidak semata-mata persoalan teknis penanganan keadaan darurat, tetapi merupakan bentuk konkret tanggung jawab negara dalam memberikan perlindungan, pelayanan, keselamatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam konteks tersebut, instruksi Kapolri, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo kepada seluruh jajaran Polri untuk mengerahkan personel, sarana, dan prasarana merupakan langkah strategis yang menunjukkan kepemimpinan responsif, mobilisasi sumber daya, serta orientasi pelayanan publik dalam situasi krisis.
Menurutnya, Langkah tersebut juga dapat ditempatkan dalam kerangka semangat Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto khususnya komitmen menghadirkan negara yang melindungi masyarakat, memperkuat ketahanan nasional, serta memastikan pembangunan dan pelayanan publik benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.
“Kehadiran personel kepolisian di tengah-tengah masyarakat yang sedang menghadapi bencana merupakan bagian dari implementasi nyata prinsip negara hadir dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Apresiasi secara khusus patut diberikan atas mobilisasi kekuatan Polri yang tidak hanya mengandalkan personel, tetapi juga kemampuan SAR, DVI, Dokkes, Polisi Satwa/K9, dukungan logistik, komunikasi, serta unsur pendukung lainnya. Pengiriman 137 personel pada tahap awal, yang terdiri dari 101 personel SAR Brimob, 14 personel DVI dan Dokkes, sembilan personel Humas, tiga personel Slog, dan 10 personel Propam, menunjukkan adanya pendekatan penanganan bencana yang multifungsi, terintegrasi, dan berbasis kebutuhan lapangan,” kata Nasky dalam keterangannya, di Jakarta, pada Minggu (16/8/2026)
Demikian pula pemberangkatan 21 personel Direktorat Polisi Satwa bersama 10 ekor anjing K9 merupakan bentuk penguatan kapasitas pencarian dan pertolongan. Kemampuan K9 sangat relevan dalam operasi pencarian korban, terutama ketika petugas harus menghadapi kondisi medan yang sulit dan membutuhkan kemampuan deteksi khusus.
Menurutnya, Dukungan logistik yang dikirim juga menunjukkan keseriusan Polri dalam memastikan operasi kemanusiaan berjalan efektif. Sekitar 3.411 kilogram atau 3,4 ton peralatan dan bantuan kemanusiaan dikirim, termasuk sekitar 409 kilogram obat-obatan, 45 dus makanan siap saji, 10 unit Wontech, peralatan SAR dan K9, serta 10 unit kennel box K9.
Nasky yang merupakan penulis buku “Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat” menilai, mobilisasi tersebut mencerminkan prinsip resource adequacy, yaitu memastikan sumber daya manusia dan peralatan yang dikerahkan memiliki dukungan operasional yang memadai. Pemberangkatan tim pada Minggu, 16 Agustus 2026, juga memperlihatkan bahwa respons Polri diarahkan untuk memperkuat Polda NTT dalam berbagai tahapan, mulai dari mitigasi, pencarian dan pertolongan, evakuasi, identifikasi korban, pelayanan kesehatan, hingga pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak.
Menurut dia, inilah substansi penting dari kebijakan publik yang berorientasi pada kemanusiaan: kecepatan respons harus berjalan beriringan dengan ketepatan sasaran, koordinasi, akuntabilitas, dan keberlanjutan penanganan.
“Negara tidak cukup hanya hadir secara simbolik, tetapi harus mampu memobilisasi kapasitas institusional ketika masyarakat berada dalam kondisi paling membutuhkan,” ujarnya.
Karena itu, gerak cepat Polri di NTT patut dipandang sebagai praktik pelayanan publik dalam situasi darurat sekaligus wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran personel SAR, DVI, Dokkes, K9, logistik, dan unsur pendukung lainnya memperlihatkan bahwa tugas kepolisian memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat kuat.
Kami memberikan penghargaan dan dukungan penuh kepada Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo beserta seluruh jajaran Polri, khususnya para personel yang berada di lapangan, atas dedikasi dan keberanian dalam menjalankan operasi kemanusiaan di NTT.
“Respons seperti ini mencerminkan prinsip quick response, evidence-based emergency response, resource mobilization, serta perlindungan kelompok terdampak. Polri tidak hanya hadir setelah bencana terjadi, tetapi ikut memperkuat proses mitigasi, pencarian dan pertolongan, evakuasi, identifikasi korban, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan, hingga dukungan komunikasi publik,” jelasnya.
Ke depan, Dia menuturkan, penguatan sinergi Polri bersama TNI, Basarnas, BNPB/BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan seluruh elemen kemanusiaan harus terus dijaga agar proses pencarian, pertolongan, evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan masyarakat dapat berlangsung cepat, terukur, transparan, dan berkelanjutan.
Kami mendukung penuh langkah Kapolri untuk terus memperkuat operasi kemanusiaan, mempererat koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Basarnas, BNPB, tenaga kesehatan, relawan, dan seluruh unsur terkait. Sinergi tersebut penting agar penanganan pascabencana berlangsung cepat, terukur, terkoordinasi, transparan, dan berkelanjutan.
“Misi kemanusiaan tidak mengenal sekat. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, negara harus hadir. Gerak cepat Polri di NTT merupakan bentuk nyata kehadiran negara, implementasi pelayanan publik yang responsif, serta wujud pengabdian Polri untuk masyarakat dan NKRI,” tegasnya.
Karenanya, Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil (civil society), Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan paradigma Polri Presisi, khususnya dalam menghadirkan institusi kepolisian yang prediktif, responsibilitas, transparan, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Dalam konteks bencana, ukuran keberhasilan institusi bukan semata-mata dilihat dari aspek penegakan hukum, tetapi juga dari seberapa cepat negara mampu menyelamatkan jiwa, mengurangi penderitaan, dan memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan serta pelayanan yang dibutuhkan.
“Karena itu, gerak cepat Polri dalam penanganan gempa NTT layak diapresiasi sebagai bentuk nyata kehadiran negara. Dedikasi personel yang bekerja di lapangan dalam situasi penuh risiko merupakan kontribusi kemanusiaan yang memiliki nilai strategis bagi masyarakat dan NKRI,” imbuhnya.
Pada akhirnya, dalam setiap situasi bencana, keselamatan dan kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Kehadiran personel Polri bersama kemampuan SAR, DVI, Dokkes, K9, dukungan logistik, dan unsur pendukung lainnya menunjukkan bahwa semangat pengabdian kepada masyarakat tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaan tugas Polri.
“Polri Presisi”: bergerak cepat, bekerja nyata, hadir untuk kemanusiaan dan kepentingan masyarakat. “Polri untuk Masyarakat”: Polri bergerak cepat, bekerja nyata, dan hadir untuk kemanusiaan. Dari NTT untuk Indonesia, keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” tutupnya.



