JAKARTA – Peringatan 100 tahun kelahiran mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat membangun Jakarta melalui kebudayaan. Dalam Memorial Lecture penutup rangkaian peringatan satu abad Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menegaskan bahwa kebudayaan merupakan fondasi pembangunan kota yang tidak boleh dipandang sebagai pelengkap semata.
Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Foke mengatakan, Ali Sadikin telah meletakkan dasar pembangunan kebudayaan Jakarta sejak 1968 dengan memandang seni dan budaya sebagai barang publik (public good) yang wajib dihadirkan negara, sebagaimana layanan pendidikan dan kesehatan. Karena itu, pemerintah berkewajiban menyediakan ruang bagi para seniman untuk berkarya tanpa mengintervensi kebebasan berekspresi.
Menurut Foke, gagasan tersebut lahir dari keprihatinan Ali Sadikin ketika melihat para seniman kehilangan ruang berkumpul setelah kawasan Senen tidak lagi menjadi pusat aktivitas seni. Dari pemikiran itulah kemudian lahir Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian yang hingga kini menjadi ikon kebudayaan nasional.
Selain TIM, Ali Sadikin juga melahirkan berbagai institusi penting, seperti Dewan Kesenian Jakarta, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta, hingga Lembaga Kebudayaan Betawi. Seluruhnya dibangun sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya ibu kota.
“Bagi Bang Ali, pemerintah bertugas memfasilitasi, bukan mengendalikan kehidupan berkesenian. Seniman harus diberi kebebasan untuk mencipta sesuai dinamika zamannya,” demikian pokok pemikiran yang disampaikan Fauzi Bowo dalam memorial lecture tersebut.
Foke menilai nilai-nilai yang diwariskan Ali Sadikin tetap relevan menghadapi era digital. Menurutnya, kebebasan berkarya, keberpihakan kepada pelaku seni, serta komitmen pemerintah dalam menyediakan ruang kebudayaan harus terus dipertahankan agar Jakarta tidak kehilangan identitasnya sebagai kota budaya.
Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan, mengaku sependapat dengan pandangan Fauzi Bowo. Ia menilai semangat yang diwariskan Ali Sadikin perlu diteruskan oleh generasi muda Betawi sebagai bagian dari upaya menjaga jati diri Jakarta.
“Talenta muda Betawi perlu mengingat dan mencontoh Bang Ali Sadikin atas kontribusi nyata bagi Jakarta dan Betawi. Bang Haji Fauzi Bowo berhasil menggelorakan semangat kebetawian kepada generasi hari ini. Semangat itu tidak boleh padam,” ujar Masykur.
Menurut Masykur, tantangan kebudayaan saat ini tidak hanya terletak pada pelestarian warisan sejarah, tetapi juga bagaimana generasi muda mampu mengaktualisasikan nilai-nilai kebudayaan Betawi di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
Ia berharap peringatan satu abad Ali Sadikin menjadi titik awal kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, dan generasi muda untuk memperkuat ekosistem kebudayaan Jakarta menuju usia lima abad kota tersebut.
Bagi Masykur, warisan terbesar Ali Sadikin bukan hanya bangunan fisik yang masih berdiri hingga kini, melainkan keberanian menempatkan kebudayaan sebagai pilar pembangunan. “Itulah warisan yang harus terus dijaga agar Jakarta berkembang sebagai kota global tanpa kehilangan akar budaya dan identitas Betawinya,” pungkasnya.



