Korannusantara.id – Jakarta, Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai persoalan utama yang tengah dihadapi perekonomian Indonesia saat ini bukan semata-mata angka pertumbuhan ekonomi, melainkan merosotnya kepercayaan (trust) investor terhadap pasar dan kebijakan pemerintah.
Menurut Didik, kondisi tersebut tercermin dari anjloknya pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut indeks pasar saham mengalami penurunan tajam dari kisaran 9.200 menjadi sekitar 5.900 poin. Penurunan juga terjadi pada saham-saham perbankan besar, termasuk sektor yang selama ini menjadi andalan pasar keuangan nasional.
“Substansi penting di balik angka-angka tersebut adalah masalah kepercayaan. Investor tidak lagi yakin untuk menempatkan modalnya di pasar Indonesia sehingga memilih keluar,” kata Didik dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, berbagai upaya stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter belum mampu membalikkan sentimen pasar secara signifikan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan investor kini jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar indikator ekonomi makro.
Didik menegaskan bahwa pasar saat ini menunggu kepastian mengenai konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah, independensi lembaga negara, tata kelola fiskal yang prudent, serta jaminan kepastian hukum bagi investasi dan hak-hak privat.
“Pertanyaan pasar sederhana. Apakah kebijakan ekonomi konsisten dan dapat dipercaya? Apakah fiskal dikelola hati-hati? Apakah lembaga negara bekerja secara independen dan kredibel? Apakah kepastian hukum benar-benar hadir?” ujarnya.
Menurut Didik, apabila berbagai pertanyaan tersebut dapat dijawab secara meyakinkan oleh pemerintah, maka kepercayaan investor berpotensi pulih dan modal asing dapat kembali masuk ke Indonesia.
Ia mencontohkan pengalaman pada masa pemerintahan Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, ketika berbagai reformasi kelembagaan dilakukan, mulai dari penguatan demokrasi, pembebasan tahanan politik, pembentukan bank sentral yang independen hingga penerbitan regulasi antimonopoli.
Kebijakan tersebut, kata Didik, berhasil meningkatkan kepercayaan pasar dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Dalam kesempatan itu, Didik juga menyinggung pesan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang belakangan mengingatkan pentingnya pemulihan kepercayaan pasar.
Menurutnya, SBY selama bertahun-tahun memilih tidak mengomentari kebijakan pemerintah sebagai bentuk etika kenegaraan, namun kali ini memberikan perhatian khusus karena melihat pentingnya menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“SBY selalu menekankan bahwa ekonomi tidak hanya soal angka fiskal dan moneter, tetapi terutama soal kepercayaan. Jika pasar melihat kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, serta komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan akan pulih,” katanya.
Didik juga mengingatkan pentingnya pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara hati-hati.
Ia menyebut APBN pada hakikatnya merupakan dokumen kepercayaan yang menjadi salah satu indikator utama bagi investor dalam menilai kredibilitas pemerintah.
Menurutnya, pasar akan menaruh kepercayaan apabila belanja negara dijalankan secara terukur, defisit anggaran terkendali, penerimaan negara realistis, serta seluruh proses penganggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel melalui mekanisme parlemen.
Lebih lanjut, Didik menilai gejolak yang terjadi saat ini memang dipengaruhi kondisi global, namun faktor domestik berupa menurunnya kepercayaan investor turut memperparah situasi. Akibatnya, investor asing mengurangi eksposur investasinya di Indonesia, indeks saham mengalami tekanan, permintaan dolar AS meningkat, dan nilai tukar rupiah melemah.
“Masalah trust menjadi titik pangkal persoalan. Karena kepercayaan menurun, investor memilih mengurangi risiko dengan keluar dari pasar. Dampaknya terlihat pada pelemahan rupiah dan penurunan indeks saham. Karena itu, kepercayaan harus dibangun kembali,” ujar Didik.
Ia menekankan bahwa pemulihan kepercayaan pasar harus menjadi prioritas utama pemerintah agar stabilitas ekonomi dapat terjaga dan arus investasi kembali mengalir ke Indonesia.



