Korannusantara.id, Singkawang – Seminar Budaya, Demokrasi, dan Literasi Keuangan yang digelar dalam rangkaian kegiatan Gawai Dayak Naik Dango Kota Singkawang menjadi wadah edukasi bagi generasi muda untuk memperkuat pemahaman budaya, nilai-nilai demokrasi, serta pengelolaan keuangan yang bijak.
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dari berbagai bidang yang memberikan wawasan dan motivasi kepada peserta mengenai pentingnya menjaga identitas budaya, memperkuat demokrasi, merencanakan masa depan, serta meningkatkan literasi keuangan.
Dalam sambutan Ketua Panitia Gawai Dayak Naik Dango Kota Singkawang yang disampaikan oleh Sekretaris Panitia, ditegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan globalisasi.
“Budaya merupakan identitas yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman,” ujar dalam keterangan yang diterima pada Senin (1/6/2026).
Selain itu, generasi muda juga diajak untuk menjaga semangat demokrasi yang berlandaskan musyawarah dan mufakat, serta bersama-sama menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.
Dalam kesempatan tersebut, panitia juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan narkoba yang saat ini semakin mengancam kalangan muda. Diperlukan kesadaran dan keteguhan diri agar generasi muda tidak terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak masa depan.
Pada sesi pertama, Drs. Simon Takdir, M.A. memaparkan materi mengenai budaya Dayak Salako. Ia menjelaskan hasil kajian dan penelitian terkait masyarakat Dayak Salako, termasuk keberagaman bahasa yang berkembang di Kalimantan Barat. Menurutnya, bahasa Dayak Salako memiliki enam subbahasa, yaitu Badamea, Badameo, Bajare, Baampape, Bahe, dan Balangin.
Sesi kedua menghadirkan Ayu Giantri, S.Pd., M.Pd. yang membahas keterkaitan masyarakat adat dengan demokrasi. Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai demokrasi sejatinya telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat melalui budaya musyawarah dan mufakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, Edwin Kurniawansyah pada sesi ketiga mengajak peserta untuk mulai merencanakan masa depan sejak usia muda melalui konsep yang dikenal dengan slogan “Mau Kemana?”.
Menurutnya, setiap anak muda harus memiliki target dan tujuan hidup yang jelas agar mampu mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Pada sesi terakhir, Libertus Yonas, A.Md., Kep. menyampaikan materi tentang pentingnya literasi keuangan sejak dini. Ia mendorong generasi muda untuk mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan dengan baik, memanfaatkan teknologi secara positif, serta memahami investasi sebagai bagian dari persiapan masa depan.
Selain itu, ia juga mengingatkan peserta agar menjauhi praktik judi online yang saat ini semakin marak dan telah menimbulkan banyak dampak negatif terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap para peserta dapat memperoleh wawasan baru yang bermanfaat serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai budaya, demokrasi, dan literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
“Seminar tersebut menjadi salah satu upaya untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter, berbudaya, bertanggung jawab, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tutupnya.



