Korannusantara.id – Jakarta, Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional. Di tengah capaian tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.600 per dolar Amerika Serikat menjadi peringatan serius terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan.
Ekonom INDEF sekaligus peneliti Center for Sharia Economic Development, A. Hakam Naja, menilai pertumbuhan ekonomi saat ini masih sangat dipengaruhi faktor musiman seperti meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 memang melampaui estimasi sejumlah lembaga dan analis ekonomi. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi yang belum tentu berkelanjutan pada kuartal berikutnya.
“Pertumbuhan ekonomi perlu dijaga agar tidak hanya bersifat sementara. Pelemahan rupiah dan ketidakpastian global menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan 5,52 persen. Sementara belanja pemerintah tumbuh 21,81 persen dengan kontribusi sebesar 6,72 persen terhadap PDB. Adapun investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen dengan kontribusi mencapai 28,92 persen.
Hakam mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 berpotensi melambat apabila tidak ada penguatan daya beli masyarakat secara berkelanjutan. Ia menyoroti dominasi pekerja sektor informal yang dinilai rentan terhadap tekanan ekonomi.
Data BPS Februari 2026 menunjukkan sebanyak 59,42 persen atau sekitar 87,74 juta penduduk bekerja berada di sektor informal. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar karena mayoritas pekerja informal tidak memiliki kepastian penghasilan tetap maupun jaminan sosial tenaga kerja.
“Ketika konsumsi rumah tangga menjadi tulang punggung pertumbuhan, sementara mayoritas masyarakat bekerja di sektor informal, maka ekonomi nasional akan sangat rentan terhadap penurunan daya beli,” katanya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan eksternal dan keluarnya dana asing dari pasar obligasi pemerintah maupun bursa saham, Hakam meminta pemerintah melakukan efisiensi terhadap program-program dengan anggaran besar agar lebih tepat sasaran dan produktif.
Ia menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memperoleh alokasi Rp335 triliun dalam APBN 2026. Menurutnya, program tersebut perlu difokuskan kepada kelompok masyarakat yang benar-benar mengalami kerentanan gizi, berpenghasilan rendah, serta berada di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi.
Selain itu, ia mengusulkan penghapusan sejumlah anggaran yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi masyarakat, seperti pengadaan sepeda motor, laptop, dan kegiatan event organizer dalam program MBG.
“Efisiensi dan refocusing anggaran MBG berpotensi menghemat paling tidak 30 persen dari total anggaran sehingga dapat dialihkan untuk program pembangunan yang lebih produktif dan menyerap tenaga kerja,” ujarnya.
Hakam juga menekankan pentingnya penguatan sektor manufaktur dan industri kecil menengah (IKM) untuk menciptakan lapangan kerja formal dalam skala besar. Menurutnya, penurunan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB harus segera diatasi agar ekonomi nasional memiliki fondasi yang lebih kuat.
Di sisi lain, ia mengingatkan ancaman eksternal seperti perang dagang global, eskalasi konflik Israel-AS dengan Iran, kenaikan harga minyak dan gas dunia, perlambatan ekonomi China, hingga meningkatnya utang global akan terus membayangi perekonomian Indonesia.
Karena itu, ia menilai penguatan UMKM, tata kelola pemerintahan yang profesional dan bersih, serta peningkatan daya beli masyarakat menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Masyarakat yang memiliki daya beli kuat dan pemerintah yang kredibel akan menciptakan optimisme sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan dan merata,” tutupnya.



