Korannusantara.id – Padangsidimpuan, Pelatihan Basic Obstetric and Neonatal Life Support (BONELS) digelar sebagai upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan pada ibu dan bayi.
Program ini difokuskan pada peningkatan kemampuan respons cepat, tepat, dan sesuai standar dalam kondisi kritis obstetri dan neonatal.
Kegiatan tersebut diikuti oleh dokter, bidan, dan perawat dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung terkait penanganan komplikasi persalinan, resusitasi neonatal, hingga tindakan awal penyelamatan pada kondisi gawat darurat ibu dan bayi baru lahir.
Selama pelatihan berlangsung, peserta terlihat aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Materi disampaikan secara sistematis dengan penekanan pada pentingnya kecepatan dan ketepatan tindakan medis dalam menentukan keselamatan pasien, terutama pada situasi yang membutuhkan penanganan segera.
Narasumber pelatihan menegaskan bahwa pembaruan keterampilan tenaga kesehatan menjadi hal penting dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan.
Menurutnya, kemampuan klinis yang terlatih secara berkala dapat memperkecil risiko keterlambatan penanganan yang berpotensi membahayakan pasien.
Selain pembelajaran teori, peserta juga mengikuti simulasi penanganan kasus secara berkelompok.
Simulasi tersebut dirancang menyerupai kondisi nyata di fasilitas kesehatan, sehingga peserta dapat melatih komunikasi, koordinasi tim, serta pengambilan keputusan dalam situasi darurat.

Metode simulasi ini dinilai efektif dalam meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan di lapangan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Salah seorang peserta menyampaikan bahwa pelatihan BONELS memberikan manfaat langsung dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis.
Ia berharap pelatihan serupa dapat dilakukan secara rutin untuk memastikan tenaga kesehatan selalu mengikuti perkembangan standar pelayanan medis.
Melalui pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan semakin siap memberikan respons cepat terhadap kondisi darurat ibu dan bayi.
Peningkatan kompetensi ini diharapkan turut memperkuat sistem pelayanan kesehatan yang lebih sigap, profesional, dan berkualitas dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi.
(Ronald Harahap)



