Korannusantara.id, Jakarta – Analis kebijakan publik dan politik nasional sekaligus Ketua Indonesia Youth Epicentrum, Nasky Putra Tandjung, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Polri di bawah kepemimpinan Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam mentransformasi Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) menjadi Universitas Kepolisian (UNIPOL). Program ini dinilai sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan profesionalisme institusi kepolisian di era digital, serta membuka akses pendidikan tidak hanya bagi anggota Polri, tetapi juga masyarakat umum.
Diketahui, saat ini Polri memiliki Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) yang direncanakan akan dikembangkan menjadi UNIPOL.
“Dukungan terhadap program strategis Polri di bawah kepemimpinan Kapolri, Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo beserta jajarannya patut diapresiasi dan didukung penuh oleh semua elemen bangsa. Transformasi STIK menjadi UNIPOL akan mencetak SDM Polri yang berkualitas, inovatif, adaptif, serta berstandar nasional dan internasional,” ujar Nasky dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/4/2026).
Kampus Presisi Jadi Instrumen Strategis Penguatan SDM
Nasky, yang juga penulis buku Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat, menilai rencana pembentukan Universitas Kepolisian bukan gagasan baru, melainkan pengembangan ilmu kepolisian yang telah ada sejak 1946.
“Program ini mencerminkan keseriusan Polri dalam menyiapkan kader bangsa untuk mengawal peradaban dan nilai-nilai kebangsaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa polisi merupakan refleksi peradaban bangsa, sehingga penguatan pendidikan menjadi fondasi utama.
“Dalam negara beradab, supremasi hukum, perlindungan HAM, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi dasar. Pendidikan menjadi fondasi masa depan Polri sekaligus refleksi peradaban bangsa,” ungkapnya.
Menurutnya, komitmen Polri menghadirkan institusi modern, terbuka, dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan bagian dari transformasi menuju pelayanan yang lebih baik.
“Setiap kebijakan harus selaras dengan kebutuhan masyarakat dan dinamika sosial,” ujarnya.
Dorong Transformasi Lewat Pendidikan dan Teknologi
Alumnus INDEF School of Political Economy Jakarta itu juga menekankan pentingnya pengembangan ilmu kepolisian yang lintas disiplin, adaptif, dan responsif terhadap perubahan zaman.
“Pada pendidikanlah tergantung masa depan Polri. Polisi harus profesional, cerdas, bermoral, dan modern agar mampu selangkah lebih maju dari perubahan,” paparnya.
Ia juga menyoroti pentingnya transformasi pemolisian di era digital melalui pendekatan electronic policing dan forensic policing.
“Polisi harus menjadi penjaga kehidupan, membangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan,” tegasnya.
Selain itu, Nasky, yang juga penulis buku Anak Muda dan Perubahan: Politik Kaum Muda, mendorong percepatan reformasi Polri secara komprehensif, termasuk penguatan kurikulum pendidikan, pendidikan hak asasi manusia, serta pemanfaatan teknologi.
“Kita dorong percepatan reformasi, termasuk perbaikan kurikulum dan penguatan pendidikan HAM,” lanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan terhadap sistem pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri, meliputi kurikulum, kompetensi tenaga pendidik, sarana-prasarana, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi.
“Langkah ini diharapkan mampu mewujudkan SDM Polri yang bermoral, adaptif, dan profesional dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” jelasnya.
Di akhir keterangannya, Founder Nasky Milenial Center itu menegaskan posisi Polri tetap berada langsung di bawah Presiden sebagai amanat konstitusi dan reformasi.
“Polri tetap di bawah Presiden langsung. Ini selaras dengan amanah konstitusi, TAP MPR, dan reformasi,” pungkasnya. (red)



