Jakarta – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Seluruh Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Kejaksaan Agung RI, Selasa (7/4/2026). Dalam aksinya, mereka mendesak adanya reformasi total di tubuh Kejaksaan serta tindakan tegas terhadap oknum jaksa yang dinilai melanggar hukum.
Massa aksi tampak membawa spanduk dan poster berisi kritik terhadap kinerja Kejaksaan. Mereka juga secara bergantian melakukan orasi yang menyoroti maraknya dugaan pelanggaran yang melibatkan oknum jaksa dalam beberapa tahun terakhir.
Koordinator Lapangan aksi, Yulio, menyebut bahwa wacana reformasi Kejaksaan selama ini hanya sebatas slogan tanpa implementasi nyata. Menurutnya, prinsip independensi, profesionalisme, dan akuntabilitas belum dijalankan secara maksimal.
“Sejak 2024 hingga awal 2026, banyak kasus yang menyeret oknum jaksa dalam dugaan tindak pidana, mulai dari pemerasan, mafia tanah, hingga penyalahgunaan kewenangan. Ini menunjukkan reformasi belum berjalan,” ujar Yulio dalam orasinya.
Massa juga menyoroti penanganan kasus videografer Amsal Christy Sitepu yang dinilai mencoreng marwah institusi Kejaksaan. Mereka menilai sanksi terhadap oknum yang terlibat belum memberikan efek jera.

“Jangan hanya dimutasi. Oknum yang terbukti harus dipecat tidak dengan hormat dan diproses secara pidana,” tegasnya.
Selain itu, mahasiswa turut mengkritik keberadaan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang dinilai berpotensi menimbulkan konflik agraria di sejumlah daerah. Mereka menilai kebijakan yang dijalankan Satgas PKH justru berdampak pada masyarakat kecil.
Dalam aksinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Jaksa Agung, di antaranya mendesak pencopotan dan proses hukum terhadap sejumlah oknum jaksa, evaluasi total kinerja Satgas PKH, serta meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera melakukan audit menyeluruh.
Mahasiswa juga menegaskan bahwa Jaksa Agung harus berani mengambil langkah tegas dan tidak hanya melakukan mutasi jabatan.
“Jika tidak berani menindak tegas, lebih baik Jaksa Agung mundur dari jabatannya,” ujar Yulio.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dan berjalan tertib. Hingga sore hari, massa masih bertahan di lokasi sambil menunggu respons dari pihak Kejaksaan Agung.



