Oleh: Azis Khafia al-Batawi (Betawi Intellectual Networks/BIN)
Lebaran Betawi bukan sekadar tradisi pasca-Ramadan, melainkan cerminan jati diri masyarakat Betawi yang sarat nilai spiritual, sosial, dan kultural.
Di tengah arus modernisasi Jakarta sebagai kota global, eksistensi Lebaran Betawi justru menjadi penanda penting bahwa identitas lokal tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya.
Secara historis, tradisi ini telah lama hidup di kampung-kampung Betawi sebagai bentuk silaturahmi yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai halal bihalal.
Namun, sejak diformalkan pada 2008 oleh Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi), Lebaran Betawi berkembang menjadi agenda budaya yang mempertemukan masyarakat dengan pemerintah daerah dalam suasana kebersamaan.
Inisiasi ini tidak lepas dari peran Amarullah Asbah, serta dukungan Fauzi Bowo saat menjabat Gubernur DKI Jakarta dan Sylviana Murni sebagai Wali Kota Jakarta Pusat kala itu.
Tradisi “anteran”, kunjungan antar warga, hingga sajian kuliner khas menjadi simbol hidupnya nilai gotong royong dan kekeluargaan.
Kolaborasi antara tokoh masyarakat dan pemerintah inilah yang kemudian menjadikan Lebaran Betawi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai identitas kultural Jakarta.
Memasuki tahun ke-18 pada 2026, Lebaran Betawi hadir dalam konteks yang berbeda.
Selain sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, kini masyarakat Betawi memiliki wadah kultural baru, yakni Majelis Kaum Betawi (MKB).
Kehadiran MKB bukan sekadar organisasi, melainkan representasi konsolidasi identitas Betawi yang sejalan dengan amanat Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (DKJ) Nomor 2 Tahun 2024.
Dalam perspektif tersebut, Lebaran Betawi tidak bisa lagi dipandang sebagai tradisi lokal semata.
Ia telah bertransformasi menjadi bagian dari narasi besar Jakarta sebagai kota global.
Menariknya, konsep “global” sejatinya bukan hal asing bagi masyarakat Betawi. Sejak awal, budaya Betawi terbentuk dari percampuran berbagai unsur—Nusantara, Tionghoa, Arab, hingga Eropa—yang kemudian melahirkan karakter budaya yang inklusif dan adaptif.
Di sinilah relevansi Lebaran Betawi menjadi semakin kuat. Tradisi ini mengandung tiga pesan utama.
Pertama, pesan spiritual sebagai kelanjutan dari ibadah Ramadan yang mendorong peningkatan kualitas keimanan.
Kedua, pesan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat melalui silaturahmi dan solidaritas.
Ketiga, pesan kultural sebagai upaya merawat dan menampilkan kekayaan budaya Betawi dalam bentuk atraksi yang hidup dan dinamis.
Lebaran Betawi 2026 menjadi momentum strategis untuk menegaskan kembali posisi budaya Betawi sebagai identitas utama Jakarta.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan komitmen kepemimpinan saat ini, perayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang kolaborasi antara nilai-nilai lokal dan semangat global.
Jika Jakarta ingin benar-benar diakui sebagai kota global, maka penguatan identitas lokal seperti Betawi adalah keniscayaan.
Lebaran Betawi adalah bukti bahwa modernitas dan tradisi tidak harus saling meniadakan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam harmoni. (Red)



