Jakarta – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026). Aksi ini digelar sebagai bentuk protes atas dugaan penyiraman air keras terhadap aktivis HAM dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus.
Massa aksi berkumpul di Taman Aspirasi dengan membawa spanduk dan poster berisi tuntutan keadilan. Mereka menilai serangan terhadap Andrie bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan bentuk intimidasi terhadap kerja-kerja advokasi hak asasi manusia (HAM).
Koordinator lapangan aksi, Muldi, dalam orasinya menyebut bahwa peristiwa tersebut merupakan ancaman serius terhadap demokrasi.
“Serangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, tetapi patut diduga sebagai bentuk teror terhadap kerja-kerja advokasi HAM dan upaya pembungkaman suara kritis masyarakat sipil,” ujar Muldi.
Mahasiswa juga menyoroti aktivitas Andrie Yunus yang selama ini dikenal aktif mengkritisi sejumlah kebijakan negara. Di antaranya terkait rencana revisi Undang-Undang TNI yang dinilai berpotensi memperluas peran militer di ranah sipil, serta keterlibatannya dalam advokasi berbagai kasus pelanggaran HAM.
Selain itu, massa menyinggung sejumlah aktivitas Andrie sebelum kejadian, seperti penolakan pembahasan RUU TNI, gugatan ke Mahkamah Konstitusi, hingga diskusi publik terkait isu remiliterisasi. Mereka menilai rangkaian aktivitas tersebut memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk menekan pembela HAM.
Dalam aksinya, Front Mahasiswa Indonesia menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka mendesak Presiden RI untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), serta meminta Polri mengusut tuntas pelaku, termasuk aktor intelektual di balik serangan tersebut.
Tak hanya itu, massa juga menuntut negara menjamin perlindungan bagi korban, keluarga, dan seluruh pembela HAM dari berbagai bentuk ancaman. Mereka turut menyuarakan penolakan terhadap upaya remiliterisasi yang dinilai berpotensi mengancam kebebasan sipil.
“Aktivis adalah pilar demokrasi. Jika serangan seperti ini dibiarkan, maka ruang kebebasan sipil akan semakin menyempit,” kata Muldi.
Aksi berlangsung sejak siang hingga menjelang magrib sekitar pukul 18.40 WIB dengan pengawalan aparat keamanan. Situasi terpantau kondusif.
Front Mahasiswa Indonesia menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga pelaku dan pihak yang bertanggung jawab di balik serangan tersebut diungkap dan diproses secara hukum.



