JAKARTA – Muzzammil Muhammad Fikri Suadu menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam surat tersebut, ia menekankan pentingnya penerapan standar nutrisi yang ketat agar program strategis nasional tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan serta perkembangan generasi muda Indonesia.
Surat yang diberi judul “Ultimatum Biologis: Mengapa Program MBG Berisiko Menjadi Sabotase Genetik Massal Jika Tidak Dirombak Total” itu disampaikan kepada Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (9/3/2026).
Dalam isi suratnya, Fikri menilai program MBG tidak hanya sekadar kebijakan bantuan pangan, tetapi memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan biologis generasi bangsa.
“Program Makanan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan populis, tetapi amanat biopolitik paling sakral dalam sejarah Republik Indonesia,” tulis Fikri dalam surat tersebut.
Ia menjelaskan bahwa asupan makanan bagi anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan sangat memengaruhi perkembangan otak serta kondisi kesehatan dalam jangka panjang.
Karena itu, kualitas bahan pangan dan cara pengolahan makanan dalam program tersebut harus menjadi perhatian utama.
Fikri juga menyoroti potensi risiko penggunaan makanan olahan serta metode memasak dengan suhu tinggi yang dinilai dapat menghasilkan senyawa kimia tertentu.
Menurutnya, jika dikonsumsi secara berkelanjutan, senyawa tersebut berpotensi berdampak kurang baik terhadap kesehatan.
Dalam argumentasinya, ia merujuk pada sejumlah kajian ilmiah internasional yang menyebutkan bahwa pola makan dapat memengaruhi ekspresi gen melalui mekanisme epigenetik.
Oleh sebab itu, menu yang disajikan dalam program MBG dinilai perlu disusun dengan standar nutrisi yang lebih ketat dan berbasis penelitian ilmiah.
“Setiap butir nasi dan porsi protein yang dibagikan hari ini pada dasarnya sedang menulis masa depan biologis anak-anak kita,” tulisnya.
Selain itu, Fikri juga menyinggung besarnya alokasi anggaran yang disiapkan pemerintah untuk pelaksanaan program MBG.
Ia menilai program dengan nilai anggaran yang sangat besar harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Menurutnya, tujuan utama program tersebut tidak hanya memastikan masyarakat memperoleh makanan, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan dan kecerdasan generasi muda Indonesia.
Melalui surat terbuka tersebut, Fikri mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa penyusunan menu, standar nutrisi, hingga metode pengolahan makanan dalam program MBG didasarkan pada kajian ilmiah serta penelitian nutrisi modern.
Ia juga mengingatkan pentingnya sistem pengawasan yang transparan terhadap kualitas makanan yang disalurkan kepada para penerima manfaat.
Menurutnya, jika dijalankan dengan standar gizi yang tepat, program MBG berpotensi menjadi investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Namun sebaliknya, tanpa pengawasan dan standar nutrisi yang memadai, program tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang.



