Korannusantara.id, KOTA BEKASI — Gejolak internal di RSUD Chasbullah Abdul Majid kembali menjadi sorotan publik setelah tiga kepala instalasi strategis memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan mundur secara bersamaan tersebut memantik dugaan adanya persoalan serius dalam pola kepemimpinan dan tata kelola rumah sakit.
Berdasarkan penelusuran Korannusantara.id, tiga jabatan penting yang ditinggalkan itu meliputi:
1. Kepala Instalasi IGD
2. Kepala Instalasi Laboratorium
3. Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik
Ketiga posisi tersebut merupakan unit vital yang berhubungan langsung dengan layanan utama rumah sakit. Sumber internal menyebutkan bahwa suasana kerja belakangan ini disebut penuh ketegangan, komunikasi yang tidak sinkron, hingga dugaan gaya kepemimpinan yang cenderung otoriter.
“Komunikasi antara atasan dan bawahan tidak berjalan baik, bahkan cenderung otoriter,” ungkap seorang pegawai yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran publik terkait potensi terganggunya pelayanan, terutama pada IGD yang membutuhkan koordinasi cepat dan akurat.
Upaya konfirmasi kepada Direktur RSUD, dr. Ellya Niken Prastiwi, MKM, MARS, telah dilakukan, namun hingga berita naik, belum ada respons dari yang bersangkutan.
DPRD Kota Bekasi: Ini Alarm Tata Kelola yang Harus Direspons Cepat
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Kang Wildan, menilai bahwa mundurnya tiga kepala instalasi adalah sinyal keras adanya masalah struktural.
“Unit-unit ini adalah jantung pelayanan. Mundurnya tiga pejabat sekaligus bukan hal sepele,” tegasnya.
Wildan menekankan bahwa manajemen RSUD harus terbuka kepada publik dan memastikan bahwa konflik internal tidak mengganggu pelayanan kesehatan masyarakat. Komisi IV meminta:
1. Penjelasan resmi Direktur RSUD mengenai akar persoalan.
2. Pemkot Bekasi melakukan audit tata kelola dan pola komunikasi.
3. Evaluasi menyeluruh sistem kepemimpinan RSUD.
4. Jaminan pelayanan tidak terganggu, terutama di unit kritis.
“Kesehatan warga Bekasi tidak boleh dikorbankan oleh disharmoni internal,” tambahnya.
*Klarifikasi RSUD Chasbullah: Pengunduran Diri Karena Beban Kerja, Bukan Konflik*
Menanggapi pemberitaan yang beredar, Plt. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Dr. Chasbullah Abdul Majid, dr. Sudirman, memberikan penjelasan resmi untuk meluruskan informasi.
Menurut dr. Sudirman, pengunduran diri tiga kepala instalasi tidak terkait konflik ataupun kepemimpinan otoriter, melainkan faktor personal dan beban kerja masing-masing.
Sudirman menjelaskan Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik Telah menyampaikan pengunduran diri secara lisan sejak Februari Alasan pengunduran diri tidak sanggup melanjutkan tugas karena beban layanan dan keterbatasan tenaga spesialis.
Lebih lanjut, Manajemen sudah berupaya mencarikan pengganti selama 2–3 bulan dan Posisi kini telah diisi oleh tenaga muda dari dokter umum IGD.
Selanjutnya, Kepala Instalasi IGD Mengundurkan diri karena merangkap jabatan yang menambah beban kerja selain itu juga menjabat ketua komite medik RSUD dan dokter spesialis Bedah. Ungkapnya .
Selain itu juga, Merasa tanggung jawab manajerial di IGD cukup berat, pengajuan ini sudah dikonfirmasi kepada bu direktur dan sudah dilakukan diskusi dan akhirnya di ambil keputusan membatalkan pengunduran diri dengan catatan manajemen akan membantu sisi administrasi terkait instalasi IGD. Jelasnya.
Kaitan dengan Kepala Instalasi Laboratorium Alasan mundur, Sudirman mengatakan tingginya intensitas kerja dan mobilitas Tinggi yang mencakup Gedung A menjadi , B, C dan D itu alasan bahwa yang bersangkutan mengundurkan diri.
RSUD menyebut alasan ini murni pertimbangan beban tugas. Ungkapnya.
dr. Sudirman menegaskan bahwa manajemen RSUD menghormati keputusan para pejabat tersebut dan memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
“Kami memastikan bahwa pengunduran diri ini bukan akibat konflik internal. Semua pelayanan tetap berjalan sesuai standar dan posisi yang kosong sudah dialihkan kepada pejabat yang kompeten,” ujarnya.



