Tiga Kandidat Unggul, Publik Menanti Figur Terbaik Mengawal Reformasi Birokrasi
Korannusantara.id — Cikarang Pusat Tahapan seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bekasi memasuki fase paling krusial. Proses seleksi yang telah berlangsung sejak Oktober 2025 kini berada di penghujung, setelah Panitia Seleksi (Pansel) menuntaskan rapat pleno penetapan nilai akhir dari seluruh rangkaian uji kompetensi.
Dalam pleno tersebut, Pansel menjumlahkan nilai dari berbagai tahapan, mulai dari uji kompetensi, penulisan makalah, uji gagasan tertulis, hingga wawancara mendalam. Komposisi penilaian ini menjadi dasar untuk menentukan peserta dengan skor tertinggi yang berhak melaju ke tahap final.
Berdasarkan penelusuran Korannusantara.id, tiga figur birokrat berhasil menembus putaran terakhir seleksi. Ketiganya dikenal memiliki rekam jejak kuat, pengalaman luas, serta karakter kepemimpinan berbeda yang menjadi modal penting dalam memimpin birokrasi Kabupaten Bekasi ke depan.

Berikut profil lengkap beserta sisi populer masing-masing kandidat.
1. Henri Lincoln, ST., MM. — Birokrat Teknis dengan Pengalaman Lapangan yang Kuat
Henri Lincoln, putra daerah kelahiran Bekasi, 18 Desember 1975, kini menjabat sebagai Kepala Dinas SDA, BMBK Kabupaten Bekasi. Ia dikenal sebagai sosok teknokrat dengan pemahaman kuat terkait infrastruktur dan teknis pembangunan.
Rekam jejaknya mencakup sejumlah jabatan strategis:
Kabid Bangunan Negara, Dinas Bangunan
Sekretaris Dinas PUPR
Sekretaris Disbudpora
Plt. Kadis Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi.
Dalam berbagai posisi tersebut, Henri banyak mencatat perbaikan di sektor infrastruktur, sarana olahraga, kebencanaan, serta penguatan OPD.
Sisi populer Henri Lincoln:
Dikenal tegas dan responsif, terutama saat memimpin BPBD.
Kerap turun langsung ke lapangan saat bencana.
Dipandang publik sebagai sosok yang dapat mempercepat pembangunan infrastruktur.
2. Drs. H. Endin Samsudin, M.Si. — Putra Daerah Dengan Karir yang Matang
Endin Samsudin, kelahiran Bekasi, 11 Juli 1974, dikenal sebagai birokrat yang tumbuh dari bawah dan memiliki pengalaman panjang mengelola wilayah. Ia pernah memimpin sejumlah kecamatan, yaitu:
Camat Bojongmangu
Camat Pebayuran
Camat Cikarang Pusat (2013–2019)
Pengalaman memimpin wilayah selama bertahun-tahun menjadi fondasi kariernya hingga dipercaya mengisi berbagai jabatan struktural.
Perjalanan kariernya kemudian berlanjut sebagai:
Kabag Administrasi dan Kerjasama Setda (2019)
Kepala Dinas Sosial (2021)
Kepala BKPSDM (2023–sekarang)
Sisi populer Endin Samsudin:
Dekat dengan masyarakat karena rekam jejak panjang di kecamatan.
Di kalangan ASN dikenal komunikatif, tenang, dan mudah ditemui.
Dipandang sebagai figur yang mampu membangun harmoni birokrasi melalui pendekatan merangkul.
3. Drs. Iwan Ridwan, M.Si. — Birokrat Senior dengan Pengalaman Manajerial Luas
Iwan Ridwan, kelahiran Bandung, 11 Juni 1969, merupakan birokrat senior dengan pengalaman lintas sektor. Ia pernah menduduki berbagai jabatan strategis, antara lain:
Kabid Aparatur Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah ( BAPPEDA )
Kabid Pendataan dan Pendaftaran pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ( DPPKAD )
Kabid Pemprosesan pada Badan Penanaman Modal dan Pelayan Perijinan Terpadu ( BPMPPT)
Kabag Pembangunan pada Setda Kabupaten Bekasi
Kabag Layanan Pengadaan Barang / Jasa pada Setda Kabupaten Bekasi
Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi
Kepala Dinas Sumber Daya Air Binamarga dan Bina Konstruksi Kabupaten Bekasi ( DSABMBK )
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan pada Setda Kabupaten Bekasi
Kepala Badan Pendapatan Daerah
Kabupaten Bekasi
Posisi-posisi tersebut menunjukkan kapasitasnya dalam perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan pendapatan daerah.
Sisi populer Iwan Ridwan:
Dianggap memiliki pengalaman paling lengkap di antara kandidat. Dikenal sebagai pemimpin dengan kemampuan manajerial kuat dan pemikiran perencanaan matang. Memahami arah fiskal dan pendapatan daerah—isu strategis Bekasi saat ini.
Pengamat kebijakan publik nasional, Ilham Fadli, M.Ikom. (Alumni Universitas Jayabaya), menilai seleksi Sekda tahun ini sebagai salah satu yang paling menentukan dalam satu dekade terakhir.
“Sekda bukan hanya jabatan administratif. Ia adalah mesin utama yang memastikan program daerah berjalan konsisten, efektif, dan terukur. Dengan kompleksitas persoalan Bekasi—banjir, industrialisasi, hingga pelayanan publik—pemilihan Sekda harus berbasis kompetensi, serta berintegritas dan bukan kompromi,” tegas Ilham Fadli.
Ia juga menyatakan bahwa ketiga calon memiliki rekam jejak panjang, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Bupati.
“Tinggal bagaimana Bupati memilih figur yang paling mampu mendorong percepatan reformasi birokrasi dan memastikan tidak ada lagi stagnasi program,” lanjutnya.
Jabatan Sekda memegang peran strategis sebagai pengendali administrasi, pengarah kebijakan, sekaligus motor koordinasi seluruh organisasi perangkat daerah. Dengan berbagai tantangan pembangunan di Kabupaten Bekasi, figur Sekda terpilih akan menentukan laju pembangunan lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Penetapan pada 19 November 2025 menjadi momentum penting bagi masyarakat Bekasi untuk mengetahui sosok yang dipercaya mengemban tugas besar tersebut.
Catatan redaksi : Pada akhirnya, masa depan Kabupaten Bekasi tidak hanya ditentukan oleh visi pemimpin politik, tetapi juga oleh ketangguhan Sekda dalam menjaga ritme pemerintahan. Siapa pun yang dipilih, publik menuntut seorang Sekda yang profesional, visioner, dan berintegritas—figur yang mampu memastikan setiap kebijakan berjalan, setiap program tereksekusi, dan setiap harapan warga menemukan jawabannya.
Warga Kabupaten Bekasi menunggu, dan sejarah akan mencatat siapa yang mampu membawa roda birokrasi menuju era baru yang lebih efektif, modern, dan berpihak pada masyarakat serta selaras dengan visi Bupati Bangkit,Maju, dan Sejahtera.



