Korannusantara.id – Medan, 11 November 2025, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution disebut tidak berada di tempat saat massa aksi Pro Tutup Toba Pulp Lestari (TPL) mendatangi Kantor Gubernur Sumut di Medan, Jumat (8/11).
Ketidakhadiran Bobby menuai sorotan sejumlah tokoh masyarakat dan rohaniawan di Kawasan Danau Toba yang berharap sang gubernur menemui langsung massa aksi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pada hari yang sama Bobby Nasution justru berada di Jakarta untuk menghadiri acara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara. Kehadiran Bobby di acara tersebut dinilai sebagian pihak bukan karena undangan resmi dari Istana, melainkan atas inisiatif pribadi.
Menurut Sutrisno Pangaribuan, Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas) dan Direktur Eksekutif Indonesia Government Watch (IGoWa), kehadiran Gubernur di acara itu menjadi alasan untuk menghindari pertemuan dengan massa aksi.
“Undangan Istana hanya untuk keluarga atau ahli waris penerima gelar pahlawan nasional. Tidak ada kepala daerah lain yang hadir. Maka kehadiran Bobby ke Jakarta lebih karena keinginan pribadi, bukan karena keinginan pihak Istana,” ujar Sutrisno dalam keterangannya di Medan, Selasa (11/11).
Ia menilai, tindakan Bobby menunjukkan ketidaksungguhan dalam merespons aspirasi masyarakat Kawasan Danau Toba yang menuntut penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL) karena dugaan kerusakan lingkungan.
“Massa aksi datang ke kantor Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah. Tapi Bobby justru menghindar. Ia takut diminta bersikap soal TPL,” ucapnya.
Sutrisno juga menyebut Bobby diduga memiliki kedekatan dengan pihak TPL sejak masa Pilgub Sumut 2024, di mana perusahaan tersebut disebut-sebut memberikan dukungan politik.
“TPL selalu bisa ‘berteman baik’ dengan siapa pun gubernurnya. Maka kabur ke Jakarta menjadi pilihan aman bagi Bobby,” tambahnya.
Menurut Sutrisno, keputusan Bobby memerintahkan Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah (Surya) untuk menemui massa aksi merupakan bentuk pengalihan tanggung jawab.
“Rakyat tidak butuh Surya. Mereka butuh Gubernur yang dipilihnya berani bertemu dan menyatakan sikap di hadapan rakyat Sumut,” tegasnya.
Ia membandingkan sikap Bobby dengan beberapa kepala daerah lain yang tidak mendampingi keluarga penerima gelar pahlawan nasional di Istana Negara, seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
“Semua kepala daerah itu tahu bahwa acara tersebut bukan forum bagi mereka,” katanya.
Sutrisno menilai sikap Bobby menjadi antiklimaks bagi dukungan masyarakat Danau Toba yang sebelumnya menaruh harapan besar kepada menantu Presiden Joko Widodo itu.
“Di Hari Pahlawan, sosok yang dulu dielu-elukan justru menunjukkan sikap pengecut. Ia lebih memilih menemui guru honorer di Deli Serdang daripada rakyat Danau Toba yang menjerit karena kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Aksi massa Pro Tutup TPL di Medan merupakan lanjutan dari seruan berbagai elemen masyarakat, gereja, dan aktivis lingkungan agar pemerintah segera menutup kegiatan PT Toba Pulp Lestari yang dianggap menyebabkan kerusakan ekologi di Kawasan Danau Toba.



