• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Opini

Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu: Refleksi Sumpah Pemuda ke-97 Tahun

W D by W D
28 Oktober 2025
in Opini
0
Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu: Refleksi Sumpah Pemuda ke-97 Tahun
0
SHARES
28
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Virgianto S.

Penggiat Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Tahun 2025 menandai usia ke-97 tahun momentum bersejarah itu. Namun, lebih dari sekadar upacara tahunan, Sumpah Pemuda seharusnya menjadi saat untuk merenungkan kembali arti persatuan dan tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan bangsa.

Lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi titik awal kebangkitan nasional. Dalam dua dekade berikutnya, kesadaran kedaerahan berkembang menjadi semangat persatuan. Dari organisasi inilah muncul ide bahwa perjuangan tidak cukup dilakukan dengan senjata, tetapi melalui pendidikan dan organisasi yang mencerdaskan.

Budi Utomo, yang dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Soetomo, menjadi pelopor gerakan nasional modern. Organisasi ini menginspirasi lahirnya kelompok pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon.

Awalnya, organisasi-organisasi tersebut masih bersifat kedaerahan. Namun kesadaran baru tumbuh: perjuangan melawan penjajah hanya akan berhasil jika pemuda bersatu di bawah semangat nasionalisme yang sama.

Tonggak Persatuan di Kongres Pemuda

Kesadaran itu mencapai puncaknya dalam Kongres Pemuda I tahun 1926 dan Kongres Pemuda II tahun 1928.

Tokoh-tokoh seperti Soegondo Djojopoespito, Mohammad Yamin, Djoko Marsaid, Amir Sjarifoeddin, dan W.R. Supratman menjadi bagian penting dari peristiwa monumental ini. Dari sinilah lahir tiga ikrar bersejarah:

• Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.

• Berbangsa satu, bangsa Indonesia.

• Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar tersebut menjadi fondasi identitas bangsa Indonesia yang menyatukan berbagai suku, daerah, dan bahasa dalam satu cita-cita: kemerdekaan.

Tahun ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengusung tagline “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.”

Tagline ini adalah ajakan agar generasi muda tidak berhenti pada slogan atau seremoni, melainkan bergerak nyata membangun bangsa.

Kata “bergerak” menandakan energi perubahan—bahwa semangat pemuda harus diwujudkan dalam aksi sosial, inovasi teknologi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Sementara “Indonesia bersatu” menegaskan pentingnya menjaga solidaritas lintas suku, agama, dan organisasi, di tengah tantangan zaman yang makin kompleks dan individualistik.

Meski teknologi memudahkan komunikasi, ironi muncul: banyak anak muda justru terjebak dalam masalah moral dan sosial.

Kasus narkoba, tawuran, hingga bullying daring (cyberbullying) masih marak.

Belum lagi, konflik internal organisasi kepemudaan yang menimbulkan perpecahan—bahkan perilaku koruptif di kalangan muda yang seharusnya menjadi tumpuan harapan bangsa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Sumpah Pemuda belum sepenuhnya terinternalisasi dalam karakter generasi penerus. Semangat persatuan yang dulu diperjuangkan dengan pengorbanan besar, kini mulai terkikis oleh ego sektoral, kepentingan kelompok, dan pragmatisme politik.

Nilai yang diwariskan generasi 1908 dan 1928 tetap relevan hingga hari ini.

Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tapi semangat persatuan dan tanggung jawab moral terhadap bangsa tidak boleh luntur.

Sumpah Pemuda adalah api yang menyalakan kesadaran nasional—bahwa bangsa ini dibangun atas dasar persaudaraan dan pengorbanan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perang informasi yang kian canggih, semangat ini menjadi benteng terakhir untuk menjaga identitas dan kedaulatan bangsa.

Mari terus warisi pesan abadi itu:

Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—Indonesia.

297
Previous Post

Bappeda Kabupaten Bekasi Raih Penghargaan Reformasi Birokrasi, Wujud ASN BerAKHLAK dan Tata Kelola Pemerintahan yang Lebih Baik

Next Post

Universitas Aufa Royhan ; Magang Merupakan Implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka

W D

W D

Next Post
Universitas Aufa Royhan ; Magang Merupakan Implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Universitas Aufa Royhan ; Magang Merupakan Implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.