Korannusantara.id – Padangsidimpuan, 11 Oktober 2025, Pendidikan kesehatan reproduksi komprehensif pada remaja merupakan hal yang sangat penting diberikan sejak dini, untuk menghasilkan remaja yang sehat, cerdas dan berkualitas.
Wajah remaja menjadi sosok yang kita harapkan dapat belajar, bermain dengan teman dalam lingkungan yang sehat, dan sukses dalam menggapai cita dan harapannya. Para remaja berhak mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi secara adil, dan menjalankan kewajibannya dengan baik. Tidak sedikit remaja yang mengharapkan hadirnya para pendidik dan tenaga kesehatan/ pemerhati kesehatan yang mereka harapkan sebagai orang yang memberikan informasi kesehatan khususnya terkait dengan reproduksinya, seperti perkembangan organ reproduksi, manajemen kesehatan menstruasinya, pengenalan terhadap citra dirinya, dan juga informasi seksualitas sebagai bekal pengetahuan pencegahan permasalahan bagi remaja.
Di Era digital saat ini, akses remaja terhadap informasi sangatlah luas dan kesempatan remaja mengakses informasi dari berbagai sumber sangatlah bebas, salah satunya media sosial, dan hal tersebut sulit untuk kita batasi. Menjadi tantangan dan tugas besar bagi kita sebagai pemerhati kesehatan, tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan untuk menyediakan akses informasi terpercaya, pendekatan edukasi secara kontiniu bagi remaja agar memiliki pusat informasi kesehatan khususnya kesehatan reproduksi bagi remaja.
Hal ini, tentunya didasarkan pada realita kondisi permasalahan kesehatan reproduksi remaja yang banyak terjadi, seperti adanya berita remaja yang melakukan aborsi, menggunakan Napza, adanya remaja yang melakukan hubungan seksual pra nikah. Setiap tahun kita mendengar kabar tentang meningkatnya kehamilan remaja, kasus kekerasan seksual, penggunaan NAPZA, hingga infeksi HIV di kalangan usia 15–19 tahun. Di balik angka-angka ini, ada wajah-wajah muda yang kehilangan kesempatan sekolah, masa depan, dan bahkan rasa percaya diri untuk melangkah.
Tentu semua ini menjadi suatu masalah serius, mengingat semua permasalahan tersebut akan merusak masa depan remaja sebagai generasi muda, generasi penerus dan aset sumber daya manusia bagi negara kita, Indonesia.
Sayangnya, pembahasan soal Pendidikan kesehatan reproduksi secara komprehensif di sekolah atau keluarga masih sering dianggap tabu. Padahal, justru di sanalah akar persoalannya. Remaja berhak mendapatkan informasi yang benar, lengkap, dan sesuai usia tentang tubuhnya, tentang bagaimana menjaga diri, dan bagaimana membangun hubungan yang sehat.
Jika mereka dibiarkan mencari tahu sendiri lewat internet yang tidak selalu memberi informasi akurat, maka kita sesungguhnya sedang membiarkan mereka berjalan dalam kegelapan.
Dari sisi etika kesehatan masyarakat, hal ini menyangkut prinsip autonomi, yaitu hak setiap individu untuk membuat keputusan berdasarkan informasi yang benar. Ketika remaja tidak diberi kesempatan untuk belajar tentang kesehatan reproduksi, hak mereka untuk menentukan pilihan hidup yang sehat sesungguhnya terabaikan.
Padahal, remaja yang paham tentang tubuh dan risikonya justru lebih mampu bersikap bertanggung jawab.
Selain itu, prinsip beneficence dan non-maleficence — berbuat baik dan tidak menimbulkan bahaya — juga seharusnya menjadi landasan dalam setiap kebijakan. Memberikan edukasi seksual komprehensif adalah bentuk kebaikan yang nyata: membantu remaja memahami konsekuensi, mencegah kehamilan dini, serta melindungi dari kekerasan dan penyakit menular. Sebaliknya, membiarkan mereka tanpa pengetahuan berarti menempatkan mereka pada risiko yang seharusnya bisa dicegah.
Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa tidak semua remaja memiliki kesempatan yang sama. Di banyak daerah pedesaan, remaja perempuan kesulitan mengakses layanan kesehatan atau konseling, bahkan masih menghadapi stigma saat mencari bantuan. Sementara di kota besar, fasilitas dan informasi lebih mudah dijangkau.
Ketimpangan ini menunjukkan persoalan justice atau keadilan yang belum terpenuhi — karena setiap remaja, tanpa memandang asal, ekonomi, atau gender, berhak atas perlindungan dan pendidikan yang sama.
Pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk hadir di tengah persoalan ini. Memberikan edukasi seksual komprehensif bukan berarti mengajarkan perilaku seks bebas, melainkan membekali remaja dengan pemahaman, nilai, dan tanggung jawab atas dirinya sendiri. Negara wajib memastikan bahwa setiap sekolah, puskesmas, dan keluarga mendapat dukungan untuk membangun komunikasi terbuka dan edukatif dengan remaja.
Permasalahan ini juga terkait langsung dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 5 tentang kesetaraan gender, serta SDG 16 tentang keadilan dan perlindungan anak. Tanpa edukasi seksual yang menyeluruh dan berbasis etika, kita akan kesulitan mencapai keempat tujuan besar tersebut.
Kini saatnya kita memandang edukasi kesehatan reproduksi dan seksual secara komprehensif bukan sebagai ancaman moral, tetapi sebagai bentuk perlindungan etis dan investasi sosial bagi masa depan bangsa. Remaja yang teredukasi bukan hanya lebih sehat, tetapi juga lebih siap mengambil keputusan yang bijak, menghargai diri sendiri, dan menghormati orang lain. Dan di sanalah letak nilai sejati dari sebuah langkah etis — membangun generasi yang sehat, sadar, dan bertanggung jawab.
Biodata Penulis:
Yanna Wari Harahap adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin. Fokus kajiannya meliputi etika kesehatan Masyarakat dan kesehatan reproduksi remaja.



