Korannusantara.id – Jakarta, 8 Oktober 2025, Ribuan warga memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI). Antusiasme masyarakat dari berbagai lapisan dan daerah di Jabodetabek terlihat tinggi, menjadikan perayaan ini sebagai wujud nyata kecintaan rakyat terhadap institusi TNI.
Namun, di tengah semangat nasionalisme yang menggelora, muncul sejumlah pemberitaan dari media asing yang dinilai menyudutkan dan tidak akurat. Beberapa media internasional menyoroti acara ini dengan narasi negatif seperti “militerisasi ruang publik” dan “ketidaksiapan aparat,” yang justru dinilai jauh dari kenyataan di lapangan.
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GPA) DKI Jakarta, Dedi Siregar, menanggapi keras pemberitaan tersebut. Ia menilai narasi yang dibangun oleh segelintir media asing tersebut tidak mencerminkan fakta sebenarnya.
“Apa yang kami lihat di lapangan justru sangat berbeda. Suasananya sangat meriah dan penuh semangat nasionalisme. Media asing yang memberitakan dengan narasi menyesatkan itu jelas tidak melihat kenyataannya. Mereka tidak tahu apa-apa soal semangat rakyat Indonesia,” tegas Dedi Siregar di Jakarta, Selasa (8/10).
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa propaganda media asing sering digunakan sebagai alat untuk memengaruhi opini publik dan menciptakan instabilitas politik maupun sosial di dalam negeri.
“Propaganda seperti ini biasanya dilakukan untuk mencapai tujuan politik, ekonomi, bahkan militer tertentu. Mereka ingin mengubah persepsi publik Indonesia terhadap institusi pertahanan yang kuat seperti TNI,” tambahnya.
Dedi juga menyoroti bahwa beberapa media asing cenderung hanya menampilkan sisi negatif Indonesia tanpa pernah mengangkat keberhasilan atau hal positif yang terjadi. Ia menilai pemberitaan semacam itu tidak berimbang dan melanggar prinsip dasar kode etik jurnalistik.
“Media asing seringkali melakukan framing negatif. Mereka menyoroti hal-hal kecil dan mengabaikan keberhasilan besar. Saya mendorong Kominfo dan Dewan Pers agar lebih tegas terhadap peliputan media asing yang merugikan bangsa,” ujar Dedi.
Ia menegaskan bahwa pemberitaan yang menuding lemahnya koordinasi saat parade HUT TNI ke-80 sama sekali tidak berdasar. Faktanya, koordinasi di lapangan berjalan dengan sangat baik, tertib, dan penuh kebersamaan antara aparat dan masyarakat.
“Kami mengecam keras tudingan media asing yang menyebut pelaksanaan HUT TNI tidak terkoordinasi. Itu berita yang direkayasa untuk menyesatkan publik dan merusak citra TNI,” ucapnya.
Dedi menegaskan bahwa narasi-narasi negatif tersebut tidak akan memengaruhi semangat rakyat Indonesia terhadap TNI. Sebaliknya, dukungan masyarakat justru semakin kuat.
“TNI adalah milik rakyat dan bekerja untuk rakyat. HUT TNI bukan hanya seremonial, tetapi bukti nyata kedekatan dan kekuatan antara militer dan masyarakat,” tutupnya.
Perayaan HUT TNI ke-80 di Monas menjadi simbol kebanggaan nasional, di mana rakyat dan tentara berdiri berdampingan menjaga kedaulatan dan kehormatan Indonesia.
( Red )



