Korannusantara.id – Padang, Pengembangan sektor pariwisata di Sumatera Barat (Sumbar) dinilai harus berbasis pada data ilmiah agar arah kebijakan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi real di lapangan. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda, usai menerima hasil penelitian dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Minggu (14/9).
“Dengan data yang ilmiah dari penelitian akademisi ini, pengembangan pariwisata kita akan lebih jelas arahnya sehingga anggaran yang digunakan lebih tepat guna,” ujar Luhur.
Ia menegaskan, pihaknya akan terus menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Sumbar untuk melakukan kajian komprehensif dalam memetakan potensi wisata. “Intinya, pengembangan pariwisata harus berbasis data, bukan hanya asumsi,” tambahnya.
Ketua Tim Peneliti Unand, Dr. Yulia Anas, menjelaskan pihaknya menggunakan metode survei dan analisis Input-Output (I-O) dengan purposive sampling. Sebanyak 400 wisatawan nusantara dan 40 wisatawan mancanegara dijadikan responden pada 80 daerah tujuan wisata (DTW) di 19 kabupaten/kota.
Dari hasil penelitian, wisatawan nusantara yang datang ke Sumbar mayoritas berasal dari provinsi tetangga, terutama Riau dan Jambi, dengan usia 21–30 tahun, berpendidikan SMA hingga S1, serta berpenghasilan Rp1 juta–Rp5 juta per bulan. Sementara itu, wisatawan mancanegara didominasi dari Malaysia, Australia, dan Eropa, dengan karakteristik usia produktif, pendidikan diploma/S1, serta pendapatan lebih dari Rp20 juta.
“Banyak temuan menarik yang kami laporkan ke Dinas Pariwisata Sumbar. Harapannya, data ini bisa menjadi pijakan pemerintah daerah dalam menyusun strategi pengembangan pariwisata yang lebih terarah,” tutur Yulia.
Dengan adanya hasil riset akademik ini, Pemprov Sumbar optimistis sektor pariwisata dapat berkembang lebih berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
( VV )



