Korannusantara.id, Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD secara tegas menyatakan bahwa Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menghadapi tantangan besar. Tantangan tersebut berpusat pada upaya meningkatkan kembali Kepercayaan Publik Polri yang sempat tergerus.
Pernyataan ini disampaikan Mahfud MD dalam Forum Belajar Bersama (FBB) yang diselenggarakan pada Jumat (12/9/2025) di Jakarta. Acara tersebut mengusung tema penting, yakni “Pemulihan Moril, Semangat, dan Profesional Polri Pasca Kekerasan Kolektif serta Riot Akhir Agustus”.
Menurut Mahfud, perubahan fundamental harus segera dilakukan oleh institusi Polri. Hal ini mengingat sorotan tajam dari masyarakat setelah beberapa peristiwa yang terjadi, terutama saat demonstrasi beberapa waktu lalu, yang berdampak pada Kepercayaan Publik Polri secara signifikan.
Tantangan Kepercayaan Publik Polri di Tengah Sorotan
Mahfud MD menyoroti bahwa Kepercayaan Publik Polri merupakan fondasi krusial yang menopang efektivitas penegakan hukum. Tanpa adanya kepercayaan dari masyarakat, proses hukum yang dijalankan oleh Polri akan kehilangan legitimasi dan dukungan.
Kondisi ini menjadi semakin mendesak mengingat berbagai peristiwa yang belakangan ini menyita perhatian publik. Sorotan terhadap kinerja dan perilaku anggota Polri telah memicu pertanyaan besar di benak masyarakat.
Oleh karena itu, upaya pemulihan Kepercayaan Publik Polri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Institusi ini harus mampu menunjukkan komitmen nyata terhadap profesionalisme dan akuntabilitas.
Jati Diri dan Moralitas sebagai Fondasi Pemulihan
Solusi fundamental yang ditawarkan oleh Mahfud MD adalah agar Polri kembali pada jati dirinya yang sejati. Ia menekankan pentingnya menghayati nilai-nilai Tri Brata dan Catur Prasetya sebagai pedoman utama.
“Solusi fundamental bagi Polri adalah kembali pada jati dirinya. Tri Brata dan Catur Prasetya harus dihayati, dengan berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945, agar Polri tetap dipercaya rakyat sebagai penjaga hukum dan NKRI,” ujar Mahfud.
Penghayatan nilai-nilai ini diharapkan dapat mengembalikan citra Polri sebagai pelayan masyarakat sekaligus penegak hukum yang adil. Moralitas dan integritas menjadi kunci utama dalam membangun kembali Kepercayaan Publik Polri.
Transformasi Pendidikan dan Smart Policing untuk Citra Positif
Sejalan dengan pandangan Mahfud MD, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Komjen Pol. Chryshnanda Dwilaksana juga mengakui kebutuhan akan perubahan. Chryshnanda menyoroti pentingnya transformasi pendidikan di lingkungan Polri.
Transformasi ini, menurut Chryshnanda, harus berbasis pada moralitas, literasi, dan dialog peradaban. Pendekatan ini diharapkan dapat membentuk anggota Polri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara etika.
“Smart policing dan media policing adalah kunci, namun yang terpenting adalah menjaga kepercayaan publik dengan menjauhi korupsi, arogansi, dan keberpihakan pada kejahatan,” tambah Chryshnanda. Dengan perubahan total ini, diharapkan masyarakat dapat lebih menerima keberadaan Polri, sehingga kinerja dalam menegakkan hukum semakin meningkat dan Kepercayaan Publik Polri pulih sepenuhnya. (red)



