Jakarta – Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta Raya menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Mengukuhkan Ruang Demokrasi & Supremasi Sipil” di Aula Asrama Mahasiswa Sunan Giri, Jakarta, Minggu (14/9/2025).
Acara ini menghadirkan Ketua PP KAMMI M. Amri Akbar dan akademisi Dr. Abd. Rahmatullah sebagai narasumber. Puluhan peserta, mayoritas mahasiswa dan pemuda, tampak antusias mengikuti jalannya diskusi yang membahas isu demokrasi hingga supremasi sipil.
Ketua PW KAMMI Jakarta Raya, Andre, menekankan bahwa forum seperti ini penting untuk menjaga kesadaran kritis mahasiswa di tengah dinamika bangsa.
“Ruang-ruang intelektual seperti ini tidak boleh berhenti. Mahasiswa harus terus meng-upgrade diri, menambah wawasan, serta memperkuat pemahaman tentang kondisi kebangsaan kita,” ujarnya.
Dalam paparannya, Dr. Abd. Rahmatullah menegaskan bahwa supremasi sipil merupakan pilar utama demokrasi Indonesia. Ia menilai posisi sipil dan militer harus jelas agar tidak terjadi tumpang tindih peran.
“Jabatan publik strategis seharusnya diisi masyarakat sipil. Militer fokus pada pertahanan negara. Kalau fungsi ini dicampur, misalnya TNI mengisi jabatan sipil, maka peran masyarakat sipil akan tereduksi dan demokrasi bisa melemah,” katanya.
Sementara itu, Ketua PP KAMMI M. Amri Akbar menyoroti tantangan baru demokrasi di era digitalisasi. Menurutnya, alih-alih memperkuat ruang diskursus, digitalisasi justru sering mereduksi esensi demokrasi.
“Hari ini demokrasi kita tereduksi oleh sistem digitalisasi. Ruang diskursus publik bergeser, bahkan sering kali sporadis. Mahasiswa dan pemuda harus solid, OKP dan BEM harus ambil peran penting agar demokrasi tidak kehilangan arah,” ujar Amri.
Ia menambahkan, generasi muda punya tanggung jawab moral mengelola digitalisasi agar menjadi instrumen penguatan demokrasi, bukan sebaliknya.
Sebagai penutup, PW KAMMI Jakarta Raya menyampaikan dua poin sikap:
• Supremasi sipil harus ditegakkan untuk menjaga demokrasi dan kedaulatan rakyat.
• Pemerintah diminta membentuk tim investigasi independen untuk mengusut dugaan makar.
Dialog kebangsaan ini menjadi pengingat bahwa peran mahasiswa dan pemuda bukan sekadar berwacana, tetapi juga meneguhkan sikap nyata dalam menjaga demokrasi dan kedaulatan bangsa.



