Korannusantara.id – Opini, Sejarah mencatat, eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan hasil dari gagasan dan perjuangan pemuda Indonesia. Organisasi Boedi Oetomo menjadi tonggak awal yang menguatkan solidaritas nasional, dimotori oleh tokoh pemuda seperti Soetomo dan digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Soetomo yang lahir pada 30 Juli 1888, memimpin Boedi Oetomo ketika usianya baru 20 tahun. Sedangkan Dr. Wahidin Sudirohusodo yang lahir pada 7 Januari 1852 berusia 54 tahun saat menggagas organisasi tersebut. Fakta ini membuktikan bahwa kebangkitan nasional sejak awal memang digerakkan oleh para pemuda.
Dampak dari lahirnya Boedi Oetomo sangat luas. Ia menjadi inspirasi sekaligus dorongan bagi pemuda Nusantara untuk membentuk berbagai organisasi perjuangan di seluruh wilayah, yang kemudian memperkuat solidaritas nasional demi merebut kemerdekaan Indonesia.
Pemuda dan Kemajuan Indonesia di Era Presiden Prabowo
Kini, di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kami meyakini bahwa peran pemuda akan kembali menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kemajuan bangsa. Presiden Prabowo telah menegaskan komitmen kerakyatan dan patriotisme untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmen ini tentu membutuhkan kontribusi nyata dari pemuda, yang selama satu dekade terakhir kurang mendapatkan apresiasi dari pemerintah.
Sejarah telah menunjukkan bahwa kontribusi pemuda selalu menjadi penentu arah bangsa. Oleh karena itu, dukungan penuh pemuda Indonesia terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo sangat penting untuk memperkuat program-program kerakyatan kabinet Merah Putih.
Klasifikasi Pemuda dan Tantangan yang Dihadapi
Dalam pandangan kami, dinamika kehidupan pemuda Indonesia saat ini dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok:
1. Pemuda Rasional-Konstruktif
Mereka yang tergabung dalam organisasi kepemudaan dan berkontribusi aktif secara positif.
2. Pemuda Subjektif-Produktif
Mereka yang lebih fokus pada kepentingan pribadi, tetapi tetap memiliki potensi produktif.
3. Pemuda Destruktif
Mereka yang kurang mendapat edukasi, cenderung terjerumus pada kriminalitas, dan minim kontribusi.
Ketiga kelompok ini harus mendapatkan perhatian serius. Pemuda konstruktif perlu diberdayakan, pemuda produktif perlu diarahkan, dan pemuda destruktif harus dibina agar kembali ke jalur positif.
Optimalisasi Pemuda sebagai Solusi Kemajuan Bangsa
Selama sepuluh tahun terakhir, perhatian terhadap penguatan nilai kepemudaan cenderung minim. Hal ini mengakibatkan:
Perpecahan dalam organisasi kepemudaan di level elit (contohnya KNPI).
Lemahnya pemberdayaan pemuda produktif sehingga kreativitas dan partisipasi menurun.
Meningkatnya angka kriminalitas dengan dominasi pelaku dari kalangan pemuda.
Karena itu, kami optimistis bahwa di era Presiden Prabowo akan terjadi perubahan besar-besaran. Optimalisasi pemuda harus dilakukan secara holistik, dengan langkah terukur seperti pembentukan kelembagaan khusus yang fokus pada pembinaan, pemberdayaan, dan penguatan nilai kepemudaan sesuai kebutuhan zaman.
Jika hal ini dilakukan, maka pemuda Indonesia akan mampu berjalan seiring dengan visi besar Presiden Prabowo dalam mewujudkan Indonesia Raya yang adil dan makmur.
Aamiin Ya Rabbal Alamin



