• Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Koran Nusantara
Advertisement
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Nusantara
No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini
Home Opini

Prof.Hasim Purba: Total, Tulus, Transformer

Redaksi by Redaksi
11 September 2025
in Opini
0
Prof.Hasim Purba: Total, Tulus, Transformer

Ket :Prof. Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum guru Besar Ilmu Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara

0
SHARES
83
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di kampung-kampung Melayu, ada petuah lama: “Kayu yang tumbuh di tanah gambut, meski akar terendam, tetap mencari cahaya langit.”

Kira-kira, begitulah tamsil yang pas untuk menggambarkan Prof. Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum guru besar ilmu hukum perdata Universitas Sumatera Utara yang memilih tidak sekadar tumbuh di menara gading, tetapi mengakar di tanah rakyat, lalu menjulang mencari cahaya keadilan.

Seperti kisah hukum dalam “mazhab” Grishamian, jalan yang ia tempuh tak pernah lapang. Hasim yang tulus itu mafhum, hukum sering kali direbut, dipelintir, dan diperdagangkan oleh kepentingan.

Tapi, oh tapi, Prof. Hasim sang pemilik catatan kuliah rapi dan lengkap yang saya kenal itu bukan hakim bayangan yang bermain aman. Pada DNA-nya adalah figur saksi sekaligus pejuang, yang sejak lama menulis satu kalimat besar dalam catatan jalan halal-hela hidupnya: “Hukum harus kembali kepada manusia, bukan manusia yang tunduk kepada tipu daya mengaku hukum.”

Hasim Purba sosok yang tenang dan suka damai, tetapi mengasuh akal pikiran yang berarsiran nalar hukum. Ia tumbuh dalam budi yang berhasrat mengaktivasi gagasan progresif: revitalisasi hak ulayat sebagai benteng masyarakat adat, tanah untuk rakyat sebagai janji konstitusi, dan hukum sebagai samburetan senjata rakyat kecil menghadapi gempuran modal, oligarki, dan birokrasi sengak.

Bagi Prof. Hasim, hukum bukan batu nisan yang dingin, melainkan obor yang menyala walau tersuruk di tengah lorong sempit drama kehidupan.

Namun hidupnya bukan hanya teks akademik zaman purba yang berdebu. Dia yang suka menyanyikan lagu Batak sendu itu adalah sosok religius plus; pernah dua kali memimpin Majelis Daerah KAHMI Medan, teguh dalam “iman” advokasi pembela rakyat, tetapi terbuka pada jalan halal perubahan. Ia seperti alegori tabut kayu dalam gendang Melayu kuat menahan, tapi elastis menjaga molek irama.

Saat ini dirinya memimpin Program Kenotariatan USU bersama Prof. Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum., sesama stambuk 1985. Prof. Purba bukan sekadar pejabat struktural, melainkan penjahit halus perkawanan tulus yang tabah menenun antara disiplin ilmu, praktik hukum, dan pengabdian sosial.

Kini dia menapak medan berat: mendaftarkan diri maju dalam penjaringan calon Rektor USU.

Kata banyak opini publik dan celoteh orang di panggung media digital yang terjal, medannya seperti panggung drama novel hukum surealis ala John Grisham: penuh intrik, tip and trick, lobi dan imaji, serta tarung kepentingan.

Di sana pastinya ada mereka yang soor dalam zona nyaman dengan legitnya status quo, betah di kursi empuk sambil menutup mata pada pertanyaan kritis akan reputasi kampus yang banyak dibincangkan orang.

Prof. Hasim Purba kudu datang, tapi datang bukan sembarang datang. Ia maju dengan membawa daftar sokongan, namun kudu diasupkan pula amanat publik sebagai modal berjuang yang lain walau bukan “agak laen” yaitu: IKA (Integritas, Keberanian, Amanah), dan 3T Total, Tulus, Transformer. Sebut saja: IKA 3T.

Total, karena dia utuh dalam menjalankan amanah. Tulus, karena dedikasinya bukan kosmetik karier, melainkan ibadah. Transformer, karena ia berani mengguncang zona nyaman untuk menyalakan mesin perubahan.

Semua kudu sadar, membangun teamwork di USU itu ibarat menyeberangi sungai deras: ada pusaran arus, ada buaya menunggu di muara.

Ketahuilah Prof. HP, seperti kata bertenaga khazanah pepatah Batak: “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.” Hormat, hati-hati, dan bijak merangkul akan membuat perahu selamat sampai seberang.

Bagi pengamat gaya nalaritas Hasim yang saya kenal sejak 1985 di kamar kosnya Jalan Diponegoro, kampus apa pun bukan istana sunyi yang terputus akses dari realitas.

Kampus bukan istana, melainkan lebih mirip rumah panggung berserambi di kampung: terbuka, lega menerima tamu, melindungi keluarga, dan kokoh menghadapi banjir.

USU yang saya bayangkan itu adalah mercusuar dunia yang tetap menyalakan lampu untuk cahaya nelayan kecil di pesisir timur, petani Tapanuli, pekebun di Tanah Karo dan Deli Serdang, pedagang kopi di Mandailing, maupun peracik mie balap di batas Kota Medan.

Akrab dengan mahasiswa dan aktivis, Hasim Purba bukan sekadar guru besar. Ia kudu membolo gairah kaum intelektual organik otentik yang menjembatani teori dan praktik, kohesi kampus dan kampung, pemihakan teks hukum kepada pejuang tanah ulayat, serta kampus yang berhasil menemukan irisan spirit John Grisham yang berani menelanjangi ketidakadilan dan tondi Andrea Hirata yang bisa mengubah hukum menjadi puisi hidup.

USU kudu loyal dalam misi keadilan yang hidup. Menjadikan USU bukan hanya pengabdi diri dan kami, tetapi pengabdi bangsa, seperti sepotong lirik Mars USU.

Dan pada titik inilah, kepada Prof. Hasim Purba, sebagai kawan pantas saya titipkan jalan amanah ini: menanjakkan reputasi akademik USU, menjaga nurani akademik organik otentik, dan mengembalikan nalaritas juncto akal sehat sebagai aset terbesar pemajuan kampus dari masa ke masa.

USU menjadi ibu asuh pengabdi bangsa. Sang almamater yang melahirkan ahli hukum-cum-lawyer yang cemerlang, namun maju tak gentar membela keadilan yang hidup.

USU kudu tabah menciptakan klinisi medis berkelas ala The Good Doctor orang baik yang pakar kedokteran, lahir dan tumbuh kembang dari kawah pembinaan profesi dokter yang dijuluki kaum penolong (helping profession).

Itu sesobek catatan lama untuk menyebut asa pada dua fakultas tertua di USU kita. Asa yang kudu hidup dan berkokok, bagai alegori ayam yang pantang mati di lumbung padi.

Karena universitas bukan hanya menara, tapi juga pelita yang memberi arah bagi masyarakat, bangsa, bahkan penduduk bumi manusia.

Tabik.
(Muhammad Joni)

595
Tags: Calon Rektor UsuDosen UsumazhabProf.Hasim Purba
Previous Post

Peringati HUT ke-80, TNI AL Gelar Bakti Sosial: Komitmen TNI Hadir Bersama Rakyat

Next Post

Kandidat Kuat Menpora Prabowo: Ada Rahayu, Raffi, Taufik dan Putri Komarudin, Siapa yang Layak?

Redaksi

Redaksi

Satu Klik Rubah Dunia

Next Post
Pengamat Puji Program Sekolah Rakyat Presiden Prabowo: Berkeadilan, Harapan Baru Bagi Anak Bangsa

Kandidat Kuat Menpora Prabowo: Ada Rahayu, Raffi, Taufik dan Putri Komarudin, Siapa yang Layak?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Ucapan Selamat

Jasa Endorse Pemberitaan KoranNusantara

  • Redaksi
  • Kontak Iklan
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Artikel
  • Artis
  • Hukum & Kriminal
  • Kuliner
  • Pendidikan
  • Sports
  • Bisnis
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.